Nasihat Untuk Pencari Ilmu

Tak dipungkiri bahwa orang-orang disekitar kita makin pintar. Bahkan Gus Dur pernah berujar, Indonesia ini tak kekurangan orang pintar, hanya saja kekurangan orang yang jujur.

Sayangnya, kepintaran tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Misalnya saja, salah satu penelitian Psikolog Satoshi Kanazawa dari London School of Economics yang menghasilkan beberapa hal unik. Diantaranya, bahwa semakin cerdas seseorang semakin sulit berkomunikasi dan semakin sedikit temannya. Padahal banyak hal di dunia ini mesti dilakukan secara bersama-sama untuk menimbulkan kemaslahatan bersama.

Syaikh Az-Zarnuji dalam Mukadimah Kitab Ta’limul Muta’alim menyampaikan sebuah fenomena dimana banyak orang yang mencari ilmu namun tidak berhasil menggapainya. Atau, berhasil menggapainya namun tidak berhasil mendapatkan buah ilmunya yakni ‘nilai manfaat’ dari ilmu tersebut. Banyak orang yang mencari ilmu namun tidak kunjung diberi kepahaman. Banyak juga yang telah mendapatkannya namun tidak bisa menempatkan ilmu itu sebagaimana mestinya untuk meningkatkan kualitas diri maupun lingkungan. Kadangkala, semakin bertambah ilmu seseorang justru membuatnya semakin sombong dan dipergunakan untuk hal-hal yang buruk dan digunakan untuk menipu orang lain.

Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia menyampaikan, “Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas”.

Nah, fenomena tersebut menurut Syaikh Zarnuji dalam kitabnya disebabkan karena orang-orang yang mencari ilmu tidak tahu jalan dan cara mencari ilmu yang tepat. Hal ini menyebabkan seseorang kehilangan arah di tengah pengembaraannya menuntut ilmu. Berikut beberapa hal yang mesti diperhatikan:

Niat Yang Benar

Niat adalah pokok dalam segala hal. Banyak amalan dunia yang menjadi amal akhirat, namun banyak pula amalan akhirat yang hanya menjadi amalan di dunia karena salahnya niat. Misalnya saja orang yang bersedekah karena hanya ingin dipuji oleh orang lain.

Diantara niat yang baik dalam mencari ilmu adalah mengharap ridlo Alloh. Selanjutnya menuntut ilmu diniati untuk mensyukuri nikmat karena manusia telah dilengkapi akal dan pikiran. Tidak semua makhluq diberikan akal dan pikiran, maka alangkah ruginya jika manusia tak mau menggunakannya untuk belajar. Niat baik mencari ilmu yang lain adalah untuk memerangi kebodohan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Selain itu, mencari ilmu juga diniatkan untuk menyebarkan hal-hal yang baik kepada sesama.

Jadi, yang pertama harus kita lakukan yakni kembali menata niat kita ya gaes.

Memperhatikan Pantangan Ahli Ilmu

Dalam peribahasa Indonesia kita mengenal peribahasa, “Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk”. Seyogyanya peribahasa bijak itu kita tancapakan di dalam hati. Salah satu pantangan ahli ilmu adalah sifat sombong. Kadang kita berada pada titik kesombongan ketika mendapatkan ilmu yang baru. Ilmu itu digunakan untuk gaya-gayaan di depan teman-teman atau untuk menjatuhkan musuh. Hal tersebut adalah salah satu penyebab rusaknya ilmu yang berasal dari diri sendiri. Duh, rugi banget kan.

Memilih Guru Yang Tepat

Hari ini segala informasi dengan mudahnya didapatkan melalui Google. Perkembangan tekhnologi tentu bukan hal yang buruk. Akan tetapi, sebagai seseorang yang benar-benar mencari kesejatian ilmu seharusnya mampu memilah-milah ilmu yang tepat untuk dipelajari. Salah satu triknya adalah mendapatkan ilmu dari guru yang tepat. Syaikh Az-Zarnuji memberikan 3 pedoman guru yang tepat yakni, yang lebih tua usianya, yang lebih pandai dan yang waro’ atau orang yang tak mudah tergoda oleh urusan duniawi. So, jangan jadikan Google sebagai satu-satunya sumber pengetahuan karena ilmu pengetahuan yang disajikan sangat liar dan sulit dipertanggungjawabkan. Ada kalanya kita harus mendapatkan guru secara langsung, bukannya robot mesin pencari.

Suka Berdiskusi

Orang yang tidak suka berdiskusi bisa berarti menuhankan pengetahuannya sendiri. Banyak berdiskusi menjadi bahan yang baik untuk menyeimbangkan ilmu yang kita cari. Tak selamanya ilmu yang kita cari itu pasti benar atau pasti salah. Dengan berbagi pikiran kita akan mendapatkan kacamata baru dalam kehidupan ini. Banyak berdiskusi adalah salah satu kunci kelengkapan ilmu.

Memilih Teman

Jika di atas sudah disinggung tentang mencari guru, mencari teman berdiskusi atau belajar pun ada tips dan triknya. Syaikh Az Zarnuji memberikan pedoman dalam mencari teman, yakni teman yang jujur dan tidak pemalas. Sifat tidak jujur dan sifat malas akan cepat menular dalam keseharian kita dan mampu dengan cepat merusak ilmu yang kita gapai.

Tabah dan Tekun

Dalam salah satu syiir Ta’limul Muta’alim disampaikan bahwa mencari ilmu membutuhkan waktu yang lama.

Imam Al-Baihaqi berkata:”Ilmu tidak akan mungkin didapatkan kecuali dengakita meluangkan waktu”. Imam Al-Qadhi ditanya: “Sampai kapan seseorang harus menuntut ilmu?” Beliau menjawab: ”Sampai ia meninggal dan ikut tertuang tempat tintanya ke liang kubur.”

Artinya, menuntut ilmu memang membutuhkan ketekunan yang ekstra dan tidak bisa didapatkan secara instan. Ulama membagi kecerdasan menjadi dua yaitu: yaitu muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah). Contoh, Seseorang yang memiliki hafalan yang kuat. Yang kedua adalah kecerdasan yang didapat dengan usaha (muktasab) misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi dan lain sebagainya.

Nah, itulah beberapa nasihat untuk para pencari ilmu yang bisa kita pedomani. Semakin kita berilmu, semakin kita sadar akan kebodohan dan kekurangan diri kita.

Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu