Rahasia Membangun ‘Unicorn’

Sebelum Nadiem Makarim membuat heboh pemberitaan karena menjadi Meneteri Pendidikan, ia telah terlebih dahulu mengudara dengan bisnis unicornnya, Gojek. Gojek termasuk dari hanya 5 persen start up yang berhasil sukses dan bahkan mendapatkan penghasilan lebih dari 1 Miliar Dollar. Dari sudut pandang penghasilan itulah sebuah start up bisa dijuluki sebagai sebuah unicorn. Lalu ada decacorn, yakni perusahaan baru yang mampu menembus angka penghasilan 10 Miliar Dolar dan hektotorn untuk perusahaan baru yang berhasil menyetuh angka 100 Miliar Dolar.

Istilah unicorn, pertama kali dikenalkan oleh Aileen Lee pendiri Cowboy Ventures, dalam tulisannya yang berjudul Welcome to The Unicorn Club. Tulisan yang dibuatnya pada tahun 2013 itu Ia melaporkan hanya ada 0,07% saja perusahaan baru yang mampu mencapai level unicorn. Di Indonesia setidaknya ada 5 start up yang telah mampu mencapai level unicorn yakni Gojek, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka dan Ovo. Menurut laporan lembaga riset CB Insights dalam The Global Unicorn Club, valuasi Go-Jek kini malah sudah menembus angka 10 miliar dollar AS dan menduduki peringkat ke-19 secara global yang artinya Gojek sudah bisa dikategorikan sebagai perusahaan decacorn. Secara global ada beberapa perusahaan yang satu level dengan Go-Jek, salah satunya adalah pesaing jalanannya, uakni Grab. Sedangkan Google, Facebook, Amazon dan Microsoft adalah contoh perusahaan-perusahaan global yang telah mencapai level hektocorn.

Dengan presentase yang sedemikian kecil, sebenarnya apa yang membuat perusahaan-perusahaan ini mampu bersaing dan terus berkembang? Mungkin ini yang ada di benak kita semua. Mayoritas perusahaan-perusahaan ini lebih memilih fokus langsung kepada pelanggan, ketimbang menjalankan bisnis raksasas seca konvensional seperti halnya strategi business-to-business aatu menjual jasa dan barang dari perusahaan ke perusahaan lain. Satu lagi yang menjadi ciri khas mereka adalah berbasiskan perangkat lunak.

Awal paling baik untuk memulai bisnis adalah ‘asalan dibalik penciptaannya’, para unicorn ini berhasil mengidentifikasi masalah kemudian menciptakan sesuatu untuk memecahkan permasalahan tersebut. Sebut saja kisah awal pembautan Gojek oleh Nadiem Makarim yang dilatar belakangi karena tidak adanya kepastian harga pada ojek konvensional. Masalah ini mungkin dirasakan oleh seluruh penduduk Indonesia. Hal ini mirip dengan yang dialami Travis Kalanick seorang pendiri Taxi Hailing Service. ia berkali-kali gagal mendapatkan Taksi di paris pada Tahun 2008.  Larry Page dan Sergey Brin mendirikan Google untuk mengatur lalu lintas informasi di Internet. Hal ini diawali dengan kesulitan-kesulitan pencarian informasi yang dialami orang-orang disekitar mereka. Berbagai penemuan itu akhirnya menjadi vital di dunia moden dan mampu menarik banyak investor. Pada intinya, para pendiri start up ini berhasil melakukan identifikasi masalah, kadang kala hanya dari masalah kecil sehari-hari, dan yang terpenting mereka mampu menciptakan sesuatu sebagai solusinya.

Sesuatu yang menjadi tantangan para pendiri start up, dan bahkan mereka yang telah menyandang status unicorn adalah perubahaan yang sedemikian cepat. Kita mengenal istilah unicorpse atau sebuah perusahaan telah kehilangan nilai dan ditinggalkan investor setelah momen ketenaran yang singkat. Hal ini disebabkan karena perusahaan-perusahaan tidak mau berubah dan mengikuti zaman. Sebab itu, perusahaan yang telah dibangun dengan basis pelanggan langsung harus pandai secara terus menerus melakukan survey atau memaksimalkan feedback agar tahu apa yang diinginkan kebanyakan orang. Hal ini yang menjadi modal penting untuk perbaikan-perbaikan sistem di masa yang akan datang. Jika kita perhatikan halaman Google Play misalnya, perusahaan decacorn seperti Gojek dan Grab masih mengalami berbagai macam keluhan dari pelanggan. Misalnya saja Grab yang diterpa komentar-komentar negatif pelanggan karena masalah ‘poin kadaluarsa’. Beberapa pelanggan merasa bahwa poin promo mereka terlalu susah digunakan dan kadangkala malah hangus tanpa penjelasan yang masuk akal. Atau Gojek, yang di protes karena sering mengalami kegagalan sistem dan dengan mudahnya memblokir para penggunanya.

Yang lebih parah adalah apa yang dialami oleh Theranos, salah satu inocorn yang bergerak di bidang Kesehatan. Perusahaan ini hancur karena tidak berhasil menjawab keluhan dari para pelanggan karena sering salah menampilkan hasil pengujian darah. Theranos juga gagal mendapatkan hasil positif dari pengujian yang dilakukan oleh Arizona Department of Health Services. Hal ini menyebabkan Theranos gulung tikar pada Tahun 2017. Peristiwa ini menginspirasi sebuah film berjudul Bad Blood. Pendirinya, Elizabeth Holmes tidak hanya dilarang menjalankan laboratorium selama dua tahun, setelah kasus ini keuntungan yang dihasilkan dari perusahaannya hilang. Setidaknya, beberapa kasus di atas bisa menjadi pembelajaran yang baik bagi kita yang sedang merintis sebuah start-up. Membuat sesuatu yang hebat memang tidak bisa didapatkan secara instan dan perlu kerja keras yang berkesinambungan. Selamat malam sobat wagers. Semoga bermanfaat.

Artikel, Coding, Teknologi
Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu