Dion Agasi, Jejak Politik dan Pesan Untuknya

14 Agustus 2014. Dion Agasi Setiabudi bin Rukma Setiabudi menjadi salah satu dari 45 anggota DPRD Kabupaten Purworejo. Usianya masih sangat muda. Bahkan termuda diantara anggota DPRD yang lain.

Itulah jejak pertama dalam kancah perpolitikan lokal bagi anak muda kelahiran 7 Juli 1989 tersebut. Pada Pemilu 2014, Dion mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Kabupaten dari PDI Perjuangan dan terpilih mewakili Dapil Purworejo I (Purworejo-Kaligesing) dengan perolehan suara 3.321. Sejak awal terpilih, jabatan Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Purworejo tak pernah lepas dari genggamannya.

Lima tahun kemudian, alumnus Jurusan Komunikasi Universitas Pelita Harapan Tangerang itu kembali terpilih sebagai anggota DPRD dari Dapil yang sama. Perolehannya cukup meyakinkan lantaran ia berhasil melipatgandakan perolehan suaranya di Pileg 2014 dengan raihan 7.726 suara pada Pileg 2019 ini. Perolehan tersebut menghantarkannya sebagai caleg dengan perolehan suara paling banyak di Kabupaten Purworejo.

Setelah sukses bertarung di Pileg, tahun ini ia juga berhasil terpilih sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Purworejo setelah melewati pertarungan dalam medan laga Konfercab partai moncong putih yang mendebarkan. Dion berhasil menggungguli rivalnya, Ketua DPC Petahana, Luhur Pambudi Mulyono.

Ya, Dion adalah satu dari sedikit politisi muda Purworejo yang berhasil membangun kariernya. Keberanian bertarung di partai mapan selevel PDI Perjuangan merupakan pilihan yang tidak mudah.

Dan yang juga patut di acungi jempol adalah keberanian DPP PDI Perjuangan yang menyerahkan kepemimpinan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Purworejo kepada anak muda melalui surat DPP PDI Perjuangan 5529/IN/DPP/VII/2019 tertanggal 9 Juli 2019 perihal Rekomendasi Rancangan Ketua, Sekretaris dan Bendahara DPC PDI Perjuangan Masa Bakti 2019-2024 dengan susunan Ketua Dion Agasi Setiabudi, Sekretaris Edy Sugiarto dan Bendahara Tunaryo. Surat yang beredar luas melalui media sosial itu tentunya tidak main-main lantaran ditandangani Bu Mega dan Sekjend Pak Hasto.

Fenomena ini cukup menarik untuk menjadi bahan diskusi lantaran generasi millenial nampaknya mulai dilirik dan diperhitungkan peranannya. Barangkali, politik Indonesia sedang mengikuti gelombang politik dunia yang terjadi sejak satu dasawarsa terakhir. Obama menjadi Presiden diusianya yang ke 47 tahun, Justine Trudeau menjadi Perdana Meteri Kanada di usia 43 tahun. Di Perancis ada Emmanuel Macron yang menjadi presiden di umur 39 tahun.

Tren tersebut menular ke Indonesia seiring bermunculannya politisi-politisi muda di Indonesia. Karena realitasnya, anak muda menjadi pemilih mayoritas dalam politik elektoral. Partai membutuhkan sosok pemimpin yang alam pikirannya sama dengan calon pemilihnya, yakni alam pikir yang menggunakan sudut pandang jaman sekarang.

Meski demikian, perjuangan politisi muda untuk bertarung di medan laga tidaklah segampang membalikan telapak tangan. Iklim demokrasi kita masih cukup kental dengan tiga warna yang buruk rupanya yakni patronase, klientilisme dan jual beli suara. Tiga hal itu yang sulit dienyahkan meskipun semua partai politik menyadarinya.

Dalam peta politik lokal, senioritas di partai politik memberikan ruang terbatas untuk politisi-politisi muda. Meski di bukakan ruang dan seolah diberikan kemerdekaan bergerak, buntutnya akan tetap diikat dan dikendalikan sesuai kehendak senior.

Tapi nyatanya, Dion Agasi Setiabudi bisa membuktikannya. Dia berhasil menjadi politisi muda yang kariernya cemerlang. Jabatannya sekarang ketua DPC PDI Perjuangan lho, tidak baen-baen. Dan partai yang dipimpinnya adalah pemenang Pemilu 2019 di Purworejo dengan perolehan sebanyak 9 kursi di DPRD.

Bagi yang suka nyinyir bisa saja bilang dia bisa seperti itu karena campur tangan bapaknya, Rukma Setiabudi. Politisi PDI P kawakan yang kini menjadi Ketua DPRD Provinsi. Kalau tidak Bin Rukma Setiabudi, belum tentu kursi Ketua DPC bisa ia naiki. Bisa saja omongan itu keluar dari mulut orang yang tidak suka.

Namun Mas Dion, yakinlah sampean pasti bisa membungkamnya. Bekal pengalaman sebagai wakil Ketua BEM saat mahasiswa, redaksi majalah Hai, Ketua Pemuda Tani, Ketua Banteng Muda Indonesia hingga sempat menjadi anak band yang digandrungi dedek-dedek gemes serta ditambah dengan kemampuan publik speaking yang bagus sudah menjadi modal besar bagi sampean untuk menahkodai partai sebesar PDI Perjuangan di Purworejo. Pesan kami, poleslah wajah banteng kita supaya tidak cepat menua…

Rekomendasi
Populer

1 Comment. Leave new

[…] itu diungkapkan Ketua DPRD Kabupaten Purworejo, Dion Agasi Setiabudi SIKom MSi dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Purworejo di […]

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu