orang orang gila

Orang–orang Gila dan Kewarasan yang Ada

orang orang gila

Awalnya saya merasa “Orang-orang Gila” yang ditulis oleh Han Gagas berkisah tentang orang dengan gangguan kejiwaan yang mana identik dengan mereka yang hilang kewarasannya. Namun semua itu berubah seketika saat saya mulai membaca dari awal penarasian yang dibuat oleh Han Gagas. Kisah dalam novel ini justru merupakan kritik sosial bagi manusia waras dengan ‘kegilaannya’.

Dibuka dengan narasi yang tak biasa tentang Ruang Isolasi yang membuat kita berimajinasi, dan langsung membayangkan suatu tempat yang sempit pengap dan segala macam kengeriannya. Namun pembukaan yang demikian membuat saya semakin penasaran untuk membuka bagian selanjutnya. Dalam menceritakan kisah ini Han Gagas menggunakan sudut pandang orang ke tiga sehingga membuat pembaca semakin dekat dengan dua tokoh utama yang ada dalam novel ini.

Marno dan Astrid keduanya hampir memiliki kesamaan, dikisahkan keduanya memiliki masa kecil yang tak seberuntung manusia pada umumnya yang penuh limpahan kasih sayang orang tua. Marno yang harus hidup sendiri terkatung-katung dan menjadikan ia bisa hidup dan beradaptasi dimanapun, dan Astrid yang dibesarkan dalam lingkungan lokalisasi menjadikan ia hidup dengan stigma yang buruk sejak kecil, dan bahkan menjadikan ia dikemudian hari menjadi pekerja seks komersial sebagaimana ia hidup dan besar di lingkungan lokalisasi.

Perjalanan keduanya bisa dikatakan penuh drama, dan inilah yang disisipkan oleh penulis untuk membuat kritik sosial. Astrid yang meskipun hidup sebagai perempuan bayaran namun juga merupakan pribadi yang gemar membaca, dalam beberapa narasi dan percakapan digambarkan bahwa ia adalah sosok yang bisa dibilang ‘tidak bodoh’. “Memangnya lulus dari sekolahan pasti sukses hidupnya? Memangnya gembel selalu tolol? jelek-jelek begini aku suka membaca.” (hlm. 206). “Omong-omong. Sekolah itu penting namun yang lebih penting lagi membaca.” (hlm.208). Pada dua konteks kalimat yang dinarasikan dalam percakapan tersebut ada beberapa kritik yang disampaikan, pertama anggapan bahwa orang sekolahan itu pintar tidak sepenuhnya benar, nyatanya dengan kepintaran yang ada dan sederet gelar yang dimiliki, justru para pencuri uang negara dilakukan oleh oknum yang memiliki gelar tinggi, juga yang ke-dua anggapan bahwasanya orang tak ‘berpendidikan formal’ dalam masyarakat kita sering kali mendapat stigma sebagai orang tak ber ilmu, padahal kita semua tahu banyak diantara orang-orang sukses yang ada disekitar kita malah tidak mengenyam pendidikan tinggi, mereka berproses dengan tekad dan kemauan dan belajar dari lingkungan sekitar.

Pada perjalanan hidup seorang Marno yang meskipun ia tidak memiliki kebahagiaan dari kecil namun kita harus banyak belajar darinya, karena dengan segala keterbatasannya ia mampu menjadi orang yang baik dan memikirkan orang lain, bahkan ia menjadi orang waras meskipun seringkali dihina dengan sebutan idiot, gila dan lain sebagainya. Nyatanya orang-orang yang waras tersebut malah menjadi gila dengan pemikiran dan tindakan yang dilakukan dengan melakukan kekejaman kepada orang lain demi ambisi dan keinginan.

Novel Orang-orang Gila karya Han Gagas sangat renyah dari tema yang diangkat, yang menggambarkan pikiran gila orang-orang waras dalam realitas kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Kritik yang disampaikan oleh penulis baik dalam narasi maupun komunikasi yang dibicarakan oleh tokoh-tokoh yang ada didalamnya sangat mengena. Sangat layak dibaca oleh siapapun penggemar sastra, dan juga mereka yang suka akan hiburan yang kaya akan bahasa yang ringan. Namun perlu diketahui bahwasanya ini merupakan novel 18+ sehingga harus dijauhkan dari mereka yang sekiranya belum pantas untuk membacanya karena didalamnya terdapat adegan yang hanya khusus dibaca oleh kalangan orang yang sudah berusia tentunya, selebihnya anda akan mendapatkan dunia dengan gambaran yang nyata yang ada disekitar kita, tentang orang-orang waras yang berpikiran gila, dan tentang orang yang dianggap gila tapi justru bisa bertindak lebih waras daripada mereka yang tak pernah mendapatkan predikat gila.

Judul : Orang-orang Gila
Penulis : Han Gagas
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : I, Februari 2018
Tebal : viii+256 hlm ; 13×20 cm
ISBN : 978-602-1318-45-4

Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu