resensi Hindia Belanda dalam Beberapa Babak

Hindia Belanda dalam Beberapa Babak

Kita tahu bahwa sejarah merupakan peristiwa yang terjadi dimasa lampau. Namun kita juga harus bijak dalam memaknai sejarah, seperti kata pepatah kuno l’histoire se repete, sejarah selalu terulang kembali. George Santayana (1863-1952) pernah memperingatkan bahwa mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi pengalaman sejarah itu.

Adalah Iksaka Banu yang mampu meramu sejarah dalam balutan fiksi yang epik hingga terlihat apik. Iksaka Banu lewat kumpulan cerpennya yang berjudul “Semua Untuk Hindia” mampu menyuguhkan kepada pembaca untuk menjelajah masa lalu di era Kolonial Hindia Belanda. Lewat tiga belas cerpen yang ada dalam buku ini, Iksaka Banu menyuguhkan beberapa peristiwa yang hari ini kita kenal dengan peristiwa sejarah.

Beberapa cerpen yang ditulisnya juga menyajikan kisah yang berbeda. Lewat sudut pandang “aku” sebagai orang pertama dihampir semua tulisannya dalam kumcer ini pembaca seperti terasa tengah diajak bercerita dengan masing-masing tokohnya. Penggunaan sudut pandang orang pertama dalam kumcer ini menjadikan pembaca masuk kedalam cerita.

Beberapa cerita juga memiliki tema yang berbeda, mulai dari kemanusiaan, pergolakan batin, nasionalisme, kemiskinan, pemberontakan, cinta hingga agama. Dimana kesemuanya acapkali hadir dalam kehidupan manusia tak terkecuali pada masa kolonial seperti yang digambarkan Iksaka Banu.

Selamat Tinggal Hindia mengisahkan seorang perempuan berdarah Belanda yang merasa menjadi bagian dari Indonesia. Ia menolak ajakan saudara sebangsanya untuk pulang ke tanah nenek moyangnya. Baginya menjadi bagian dari masyarakat Pribumi adalah kebahagiaan untuknya. Pada penutup cerita ini Iksaka Banu menggambarkan dengan epik seorang pria yang gagal membujuk sangat wanita karena lebih memilih untuk bergabung dengan para pejuang kemerdekaan. “Aku membayangkan Geertje dan lesung pipinya, duduk di tengah hamparan sawah, bernyanyi bersama orang-orang yang ia cintai : ‘ini tanahku. Ini rumahku. Apapun yang ada di ujung nasib, aku tetap tinggal di sini’ ” (Hlm.12)

Pada hampir semua bagian cerita Iksaka Banu membuat cerita semakin menarik, di awal penceritaan ia selalu menggunakan dramatisasi kalimat sehingga membuat pembaca semakin penasaran untuk membuka halaman berikutnya. Yang tak kalah menarik adalah penutup bagian akhir yang tak sepenuhnya dijelaskan hingga pembaca merasa bebas untuk menerka akhir ceritanya. Dalam cerpen yang berjudul “Stambul Dua Pedang” misalnya pembaca akan berkhayal sendiri siapa kiranya yang akan menjadi pemenang anggar untuk memperebutkan hati seorang wanita, tentu dengan kita membaca cerita secara utuh kita akan adil menentukan akhir cerita sesuai imajinasi kita.

Tak hanya itu Iksaka Banu juga pandai menyisipkan peristiwa dalam cerita. Dalam judul “Tangan Ratu Adil”, ia menggabungkan unsur-unsur nyata dalam fiksi rekaan ya menjadikan sastra sejarah benar-benar hidup dibuatnya. Pada cerita ini seorang tawanan pemimpin tarekat yang dipenjara oleh kompeni menjadi jalan masuk bagi kita pembaca sejarah. Kita tahu bahasanya pada masa kolonial Hindia Belanda perlawanan yang dilakukan oleh pemimpin tarekat terjadi terus menerus dibeberapa tempat, dalam cerita ini Iksaka juga menyebutkan beberapa peristiwa perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang tarekat. Sekali lagi akhir cerita dalam judul Tangan Ratu Adil benar-benar menunjukkan kepiawaian Iksaka dalam mengakhiri sebuah kisah.

Memasuki kisah yang lainnya kita juga akan memasuki pergolakan batin yang dihadapi oleh para tokoh-tokohnya. “Keringat dan Susu” adalah kisah pergulatan batin tentang seorang peranakan. Mereka lahir dari dua darah berbeda kebangsaan, hukum yang berlaku pada masa itu menunjukkan seorang yang berdarah campuran belum bisa diterima sepenuhnya sebagai orang Eropa. Dalam sebuah percakapan terdapat kegetiran yang menusuk yang dialami mereka “…. Di kalangan Belanda, kami tidak pernah diterima utuh. Sementara di lingkungan pribumi menjadi bahan cemooh” (Hlm.32).

Pergulatan batin yang dialami para tokoh menunjukkan Iksaka Banu mampu hadir menjadi tokoh yang ditulisnya. Dalam “Racun untuk Tuan” kita disuguhi kisah cinta beda kasta, akan pria Belanda dengan Gundiknya. Meskipun keduanya saling mencintai namun lagi-lagi hukum tak menghendaki mereka untuk menjadi pasangan resmi, dan disini kasta pribumi seolah dipaksa untuk mengalahkan terhadap ‘kuasa’ adab Eropa.

Kisah-kisah yang ditulis Iksaka Banu benar-benar mampu menyeret pembaca untuk menerka dan mengira, “sedang berkisah tentang sejarah apakah ini?” “Siapakah tokoh yang sedang dikisahkan? ” “Ada peristiwa apakah yang disisipkan dalam ceritanya kali ini? “. Kita akan selalu bertanya bahkan sesekali akan membuka ‘browser’ sebagai teman pencari informasi dari kisah yang sedang dikisahkan Iksaka Banu. Semisal dalam judul ” Pollux ” kisah seorang tawanan yang akan dipindahkan menyuguhkan cerita sejarah yang tentu diluar imajinasi kita sebagai pembaca. Bagaimana tidak, kisah pemberangkatan pengasingan Pangeran Diponegoro bisa disandingkan dengan tokoh fiksi yang mana mampu menjadikan cerita terasa hidup. Disini percakapan antara tawanan tentang peristiwa sejarah begitu berisi, juga dengan hadirnya Diponegoro sebagai tokoh nyata di akhir cerita.

Sejarah selalu memainkan peranannya bahwasanya ia akan selalu hadir dalam wujud yang berbeda. Dalam “Bintang Jatuh” peristiwa pembantaian etnis Tionghoa yang terjadi pada masa lampau tentu mengingatkan kita akan peristiwa kelam yang terjadi beberapa tahun jauh setelahnya yaitu pada tahun 1998. Sementara mitos kepercayaan yang hadir dalam masyarakat kita hari ini juga sudah berkembang jauh sebelumnya, dalam “Gudang Nomor 012B” unsur-unsur mitos dan peperangannya dengan nalar barat juga menjadi cermin betapa berisinya cerpen yang ditulisnya ini, diakhir kisah kita disuguhi khidupan nyata tentang betapa kemiskinan juga hadir dalam masyarakat masa itu. Tak hanya itu “Mawar di Kanal Macan” juga dikisahkan dengan balutan fiksi yang apik. Kisah cinta terlarang, pergolakan batin antar tokoh lagi-lagi mampu membawa pembaca untuk hanyut dalam cerita tersebut.

Iksaka menutup kumcer ini dengan cerpen berjudul “Penabur Benih” yang mengisahkan awal kedatangan Cornelis de Houtman ke Nusantara. Cerita ini dibumbui unsur agama yang begitu kental, dimana pelayaran yang dilakukan armada tersebut tak sepenuhnya untuk menjalankan misi menyebarkan ajaran agama tetapi lebih kepada perdagangan.

Membaca kumpulan cerpen yang ditulis Iksaka Banu menjadikan pembaca benar-benar menikmati kisah sejarah yang disuguhkan dengan cara yang berbeda. Sejarah yang berisi data dan fakta yang selama ini kaku begitu bisa dinikmati tatkala disandingkan dengan fiksi. Barangkali benarlah bahwa sesuatu yang sejatinya berlawanan akan terlihat indah tatkala mampu disandingkan dengan apik, tak ubahnya seperti fakta dan fiksi.

Judul : Semua untuk Hindia
Penulis : Iksaka Banu
Penerbit : KPG
Cetakan : Pertama Mei 2014
Jumlah Halaman : xiv +154 hlm
ISBN : 978 – 979-91-0710-7

Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori