Baliho Pilkada Purworejo

Andai Baliho Pilkada Belajar Dari Baliho Rokok

Baliho Pilkada Purworejo

‘Isih Enak Jamanku Tow?’ – begitu kira-kira salah-satu propaganda pada bokong truk yang sempat viral beberapa tahun yang lalu. Meski sederhana effeknya sungguh dahsyat karena menjadi sumber diskusi di segala lapisan masyarakat. Mulai gedung parlemen, sekolahan hingga warteg lantas membanding-bandingkan realitas keadaan masyarakat di zaman Orba dan Reformasi. Ini baru satu dari sedemikian banyak propaganda kreatif yang muncul di bokong truk. Sebab itu, banyak yang menjuluki truk sebagai ‘Bapak Meme Indonesia’.

Bicara soal kreatifitas, baliho-baliho rokok juga tak kalah menarik. ‘Yang Penting Happy’, ini satu dari sekian banyak slogan rokok yang memberikan kesan kuat di masyarakat. Beberapa video promonya pun juga sangat-sangat kreatif. Mungkin saja hal ini disebabkan karena iklan rokok sangat dibatasi seperti yang tertuang di Permenkes No 28 Tahun 2013. Pemerintah membatasi iklan rokok sedemikian rupa, termasuk larangan untuk menampilkan wujud rokok, mencantumkan nama produk sebagai rokok, menyarankan rokok dan seabrek larangan yang lain. Meski begitu, semakin dibatasi malah menjadikan iklan rokok semakin kreatif. Kadangkala keterbatasan justru bisa mengangkat sisi paling kreatif dari diri kita.

Tengok saja platform social media twitter yang menerapkan kebijakan membatasi celotehan penggunanya ‘hanya’ sebanyak 280 karakter. Akibat kebijakan ini, mau tak mau orang yang ingin nge-tweet kan mesti berfikir matang dan super kreatif untuk dapat menyajikan informasi yang berkualitas dengan karakter yang terbatas. Hingga saat ini Twitter malah menjadi platform yang paling dipercaya, paling terbebas hoax dan paling terbebas dari informasi sampah ketimbang platform-platform media sosial lain yang memberikan banyak kebebasan kepada para penggunanya. Kalau Anda pejabat yang suka a.. e… a… e… saat berpidato saya sarankan untuk jauh-jauh dari Twitter. Hehe.

Nah, September nanti akan ada hajat besar Pilkada 2020 di Kabupaten Purworejo. Mak Pletik saya ber-andai-andai ada kebijakan yang membatasi desain Baliho Calon Kepala Daerah sebagaimana baliho-baliho rokok. Salah satu pasalnya adalah larangan memajang foto kontestan.

Saya bertanya-tanya kok bisa Masyarakat Purworejo yang sedemikian kreatif hanya disuguhi tipe desain baliho yang itu-itu saja dari tahun ke tahun, dari pil satu ke pil yang lain. Wajah calon atau pejabat meringis memamerkan gigi, kadang-kadang sambil dada-dada seakan-akan bisa mengobati kepahitan kita semua. Saya khawatir tidak hanya di pil-pil an saja, nanti semua baliho dengan konteks apapun malah diisi wajah pejabat mringis. Haishhh.

Jika memang Baliho menjadi salah satu bahan edukasi dalam pilkada, seharusnya Baliho bisa didesain lebih kreatif dan lebih syarat program. Jangan sampai pengadaan Baliho hanya untuk kontes foto, ganteng-gantengan dan wibawa-wibawaan. Memang tidak salah juga, tapi mosok iyo kita memilih seorang Kepala Daerah karena pertimbangan senyumnya yang lebih manis, giginya yang lebih putih atau bajunya yang lebih bagus.

Sebab itu, jika saja calon kepala daerah dan tim kreatifnya mau belajar dari Baliho rokok, mungkin saja Baliho-Baliho yang berdiri kokoh di jalanan kota itu bisa menarik minat lebih banyak warga. Menulis visi misi dengan kreatif, membuat tagline dan propaganda yang ngena dan lebih millenial. Pilkada Purworejo yang baru-baru ini dinobatkan paling rawan ke-2 se Jawa Tengah, ya salah satunya disebabkan oleh partisipasi masyarakat yang sangat rendah dalam pil-pilan itu. Bisa jadi ini salah balihonya. Nggak menarik dan nggak mengedukasi.

Eh… tapi saya lupa. Kadang kala penalaran kita bisa salah total. Belum tentu juga masyarakat kita selama ini memilih karena mempertimbangkan secara matang visi misi dan program apalagi repot-repot mantengin baliho para calon. Masyarakat ber-flower kadang kala lemah iman dan gak mau neko-neko. Ketimbang berfikir cerdas berdinamika soal visi-misi, lebih mending pragmatis hitung-hitungan isi amplop. Sudahlah, mana yang lebih banyak shodaqoh itu yang mesti kita sembah.

Lho-lho, jadi sebenarnya yang benar itu yang bagaimana to?

Artikel, Purworejo
Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu