Negeri Pelangi

Musik Reggae di kenal sebagai musik pembebasan; ya sebatas itu. Pembebasan apa? Tidak banyak mungkin dari kita yang ngeh secara mendalam soal musik yang satu ini, disamping sebagai musik pantai atau musik santai. Setidaknya itulah yang akhirnya menjadi pelecut Ras Muhammad menulis buku Negeri Pelangi. Sebagai Reggae Ambassador ia menunaikan tugasnya dengan sangat luar biasa.

Maka dari itu saya berterima kasih kepada Oskar Trisno Pamungkas yang telah menyumbangkan buku tersebut untuk perpustakaan kami. Satu buku lain berbahasa Inggris (menjadi salah satu dari 20 buku berbahasa Inggris di basecamp Sibak) dan tentu memerlukan keahlian khusus untuk membacanya. Sayangnya saya lebih fasih berbahasa jawa inggil ketimbang Inggris hehe. Kemampuan yang lebih cocok dalam usaha-usaha penaklukan calon mertua.

Ras Muhammad mengambil mula dari Jamaika, tempat lahir Reggae yang sebelumnya lebih banyak di dominasi Ska; hingga sebuah kelompok di pojokan Jamaika yang kemudian di juluki Rastafari menyuarakan kebangkitan Africa United, atau persatuan Afrika. Kelompok ini muncul karena ketidakpuasan terhadap sistem di Jamaica pasca-kemerdekaan. Bibit-bibit filosofi kebangkitan Africa ini ditanam melalui musik Reggae (Shregge) yang konon dicetuskan oleh Toots Hibbert.

Rastafari ini semacam ruh yang dipercaya akan membawa kejayaam bangsa Afrika yang dulu sempat berjaya di bawah kerajaan Ethiopia, salah satu monarkhi tertua di dunia. Kerajaan ini diyakini peninggalan kerajaan Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis. Rastafari adalah revolusi dalam diri yang selama ini telah didominasi cara pandang dunia dengan cara pandang barat. Bob Marley adalah salah satu Rastafarian yang dengan gigih menyuarakan kebangkitan Afrika United lewat lagu-lagunya.

Sangat menarik mengulas hubungan batin Bob Marley dengan Ras Tafari Makonen yang kemudian mengambil takhta Haile Selassie, Raja diRaja Ethiopia. Raja Haile Selassie inilah yang diyakini, sebagaimana ramalan Marcus Garvey 10 tahun sebelumnya soal akan datangnya raja afrika. Pada perjalanannya King Haile Selassie memberikan sumbangsih yang besar kepada gerakan pan-Afrikanisme. Ia menyumbangkan istananya untuk sekolah gratis, juga mendirikan bangunan African Hall sebagai tonggak persatuan Negara-negara di Afrika (diresmikan 6 Februari 1961, tanggal yang sama dengan kelahiram Bob Marley- sebuah hubungan lain?). King Haile Selassie jugalah yang mengusir Fassisme Mussolini dari Ethiopia, meski akhirnya harus menyerah oleh Komunisme Soviet.

Di buku ini diceritakan dengan baik bagaimana lagu-lagu Bob Marley begitu sarat makna dan cita-cita. Exodus yang menerangkan tentang kembali ke tanah harapan, setelah sekian lama diperbudak oleh negara barat. Tanah itu adalah Ethiopia. Zimbabwe, sebuah lagu yang menjadi pelecut perjuangan gerilyawam di zimbabwe; Lagu War yang berisi kata-kata Haile Selassie soal perang yang akan tetap berlangsung jika masing-masing bangsa merasa dirinya lebih superior. Lagu Babylon yang mengutuk simbol kemegahan dunia barat dan masih banyak lagi.

Bob Marley sebagai duta Reggae dunia memang dianggap sebagai titisan pergerakan Rastafari; termasuk ketika ia mendapat cincin King Haile melalui anakanya.

Buku yang sangat menarik di baca apalagi oleh sedulut saya Budha Kreshna dan Dhemank (Konon raja Firaun berambut gimbal bro hehe); tidak cukup waktu kalau saya ceritakan melalui wall ini. Masih banyak sekali kisah dalam buku ini termasuk penarikan cerita ke sistem kolonialisme di Indonesia. Para penjajah menganggap pribumi hanya seperempat manusia. Kurang lebih sama dengan pemosisian Rakyat Afrika sebagai warga kelas dua. Termasuk bagaimana Bung Karno mendirikan Gerakan Non Blok dan kesamaan visi misi King Haile dan Bung Karno.

“Manusia yang tidak mengenal sejarah bangsanya bagaikan sebuah pohon yang tak berakar” – ucap Marcus Garvey.

Pesan inilah yang ingin ditonjolkan Ras Muhammad ketika melihat para penikmat reggae pada khususnya melakukan penyempitan makna; Reggae adalah musik pantai. Padahal jauh lebih dari pada itu.

Mungkin ini bingkai terkecil dari pemuda Indonesia hari ini, yang hanya bisa melihat lagu -bahkan lebih jauh daripada itu- dari dimensi hiburan dan cinta-cintaan. Menjadi generasi mati yang menggunakan facebook, twitter, dan berbagai keahlian lain hanya untuk menyuarakan kehendak pribadi kepada orang banyak; bukannya menjadi corong cita-cita besar dari sebuah peradaban.

Sekarang tinggal bagaimana kita, sebagaimana anak muda, seperti Bob Marley lewat lagu-lagunya mampu menjadi wakil pembebasan, wakil perdamaian, wakil cita-cita kemaslahatan banyak orang. Voice of the Voiceless – Suara bagi mereka yang tidak memiliki suara. Yo, man! Reggae!

Resensi Buku, Sastra
,
Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu