Melawan Lupa: Mengulik Semangat Reformasi di Era Digital

Pada tahun 1998, mencapai puncaknya gerakan aktivisme mahasiswa atau gerakan pelajar yang dipenuhi dengan idealisme untuk mewujudkan demokrasi, sehingga berhasil menguasai gedung Parlemen di Senayan. Peristiwa tersebut mempunyai arti penting sebagai tonggak awal terjadinya reformasi, yang ditandai dengan lengsernya rezim Presiden Soeharto setelah memerintah selama 32 tahun.

Semangat perlawanan para aktivis mahasiswa tahun 1998 seharusnya terus berkobar sebagai warisan perjuangan untuk menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk mereka yang memiliki kekayaan berlimpah. Pasca runtuhnya Orde Baru, munculnya tokoh-tokoh reformasi yang sekarang menjadi pilar dalam politik nasional. Namun, disayangkan bahwa para aktivis ’98 yang sekarang aktif di bidang politik tampaknya mengulangi kesalahan kelompok aktivis sebelumnya. Padahal, semangat perubahan telah ditanamkan sejak awal era reformasi sebagai upaya untuk merombak yang telah menyimpang.

Saat ini, pelaku politik cenderung lebih memprioritaskan keuntungan kelompok atau golongan serta kepentingan partainya masing-masing. Padahal, tujuan utama reformasi adalah mewujudkan keadilan sosial bagi semua warga Indonesia, tanpa membedakan antara kaya dan miskin, bangsawan atau petani.

Tidak hanya tokoh-tokoh politik, bahkan mahasiswa sebagai kaum terpelajar pun tampaknya kehilangan idealisme, terjebak oleh kekuasaan penguasa. Mahasiswa cenderung diam terhadap peristiwa penting di sekitar mereka. Budaya diskusi kini tergantikan oleh konten-konten di media sosial yang tidak mendidik, seperti video tiktok yang tak berujung. Salah satu tulisan dari Kang Maman Suherman menyampaikan pesan untuk tidak memuja Handphone dalam tulisan “Hidup Tapi Mati”, yang menyoroti kebiasaan konten viral di media sosial. Bahkan, tokoh-tokoh publik sering meniru budaya ini, tanpa memberikan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat bawah.

Sebagai kaum terpelajar, mari kita tetap berpegang teguh pada idealisme, berani menyuarakan kebenaran, dan berdiskusi untuk meningkatkan pemikiran kritis. Diskusi adalah langkah awal untuk pertukaran gagasan dan peningkatan pemahaman. Seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, “orang bijak meletakkan lidahnya di belakang hatinya, sedangkan orang bodoh meletakkan hatinya di belakang lidahnya”. Harapan saya ke depan adalah agar kita, sebagai masyarakat, dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya fokus pada isu-isu yang substansial dan tidak terjebak dalam arus konten yang hanya bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari masalah-masalah yang sesungguhnya perlu kita hadapi dan selesaikan.

1 Comment. Leave new

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Rekomendasi
Populer This Month
Populer
Direktori