Cerpen Gadis Kecil Dan Suara Jangkrik | part 1

|Chapter 1

Malam telah mencair dilarut waktu. Suara jangkrik terdengar di balik dinding kamar, ” Krik krik krik krik krik ! ” dari arah tenggara. Di sudut kamar sebelah timur laut, ada sebuah kursi menghadap ranjang, di tengahnya itu ada kaleng bekas susu kental manis yang di ujungnya menyala api kecil. Listrik sedang padam, terang jadi temaram. Sendu cahaya ruangan sekedar membantu mata supaya gelap tidak menjadi penguasa tunggal malam itu. Seorang gadis kecil sedang gelisah diatas ranjangnya bukan karena ulah nyamuk, imajinasinya berkelana dan matanya tak kunjung pejam. Siang tadi ia tiba-tiba dimarah si ayah, ia gusar memikirkan kesalahanya. Larutan malam kini semakin mengental, si gadis kecil masih dengan usahanya yang gigih. Hingga sayup-sayup terdengar oleh si gadis kecil suara kaki berjalan dengan terseok. “ Ayah pasti marah lagi kalau tahu aku belum tidur ” batinya sambil menutupi muka dengan selimut. ” Srek! srek! “ Suara itu lagi.  Tak lantas ia terpejam, gadis itu menyadari bahwa ayahnya tidak membuat suara seperti itu saat berjalan. Ia cermati suara itu lagi, “dari arah selatan” terkanya. Kemudian terdengar bunyi pintu terdorong, “ Ada seseorang yang masuk kedalam rumah dan itu jelas bukan ayahnya ” batin gadis kecil itu, yakin. Penasaran membuatnya beranjak dari ranjang. Kemudian ia mengintip dari lubang pintu kamarnya yang mengarah lurus kearah dapur, sumber dari suara yang mencurigakan itu berasal. Bayangan hitam sosok terlihat membesar disinari lampu teplok yang juga di pasang ibu di meja dapur. Sosok itu berhenti di samping gantungan jaket ayahnya. Diperhatikanya oleh gadis itu yang ternyata seorang kakek tua berbadan gemuk berbaju lurik dengan ikat kepala berwarna hitam sedang menjulurkan tangan seperti meraih sesuatu dari gantungan baju ayahnya. Gadis kecil ini termangu tidak dapat berucap kata melihat sesosok asing di dalam rumahnya sedang melakukan hal yang mencurigakan “ Pencuri ” tukasnya dalam batin. “ Tapi bagaimana ia bisa masuk? ” pikir gadis kecil itu, ia tahu bahwa si ibu selalu rajin mengunci setiap pintu rumah, bahkan pun hari masih sore. Benaknya bertanya-tanya, “ Siapa kakek itu? ”. Kakeknya bahkan terlihat lebih tua dibanding sosok tersebut, tetapi pakaiannya itu menunjukan jaman yang begitu lampau. “ Manusia kah? ” “ Hantu kah? ” kepalanya dipenuhi pertanyaan. Hingga kemudian sosok itu menoleh kearah si gadis, seolah sadar bahwa si gadis sedang mengawasi. Kali ini si gadis menatap lurus kearah muka si sosok. Sambil tersenyum, sosok itu mengankat jari telunjuknya ke depan mulut sambil bersuara “ Ssst ! ” mengisyaratkan diam. kemudian menunduk memberi tabik dan berjalan mundur dengan kaki terseok keluar melalui pintu dapur dan menghilang tidak terdengar lagi.

                                                                                                                                    ***

Seperti pagi-pagi sebelumnya gadis kecil itu dengan semangat menyantap sarapan paginya dengan wajah ceria. Ia duduk di sebuah meja makan kecil dengan kedua adiknya yang terpaut dua dan tiga tahun usia disisi lain meja. Si ibunya sedang menyuapi si bungsu sambil berjongkok. Setelah menyelesaikan sarapanya gadis kecil itu menaruh piring kotor ke tempat pencucian dan menghampiri si ibu.

“ Bu, tadi malam aku mimpi lihat kakek-kakek masuk ke rumah ini.. , rambut dan jenggotnya putih semua tapi mukanya tidak peyot, gendut ”

Jelasnya pada si ibu. Si ibu mencerna sungguh-sungguh perkataan anak sulungnya. Pemandangan tidak biasa terjadi pagi tadi saat si ibu membangunkan anaknya itu , si anak ini sedang tidur meringkuk di depan pintu kamarnya dan bukan di ranjang.

“ Itu namanya kakak sedang mimpi buruk, makanya kakak jangan nakal ya, jangan main terus dan biar bisa nyenyak bobo’nya, nanti mimpi buruk lagi, Mau ”

tutur si ibu menenangkan anaknya.

“ Iya deh, kakak enggak nakal lagi 

“ Tapi kakak jangan bilang ayah ya, nanti dimarahi ” kata si ibu berpesan.

Dering suara lonceng sepeda terdengar nyaring dari arah utara.

“ Itu temenya kakak udah sampe depan ”.

Gadis kecil itu bergegas mencium tangan ibunya lalu segera menaiki sepeda kepunyaanya dan menghambur ke keceriaan rombongan. Bagi gadis kecil itu sekolah adalah tempat yang sangat keren. Bagaimana tidak disana ia bisa bertanya sepuasnya tanpa dimarahi mengetahui hal baru dan bermain bersama teman-teman. Satu hal yang menyebalkan dari sekolah adalah waktunya yang terlalu singkat.

Setelah percakapanya dengan si si anak tadi pagi, ibu mulai cemas. Apalagi jika sewaktu-waktu listrik padam seperti malam tadi.

“ Apa aku lupa mengunci pintu dapur, kemarin itu? ” 
“ Padahal disini banyak pencuri, apa jadinya rumah ini jika aku lupa kunci pintu ”

“ Tapi tadi pagi semua pintu masih utuh terkunci dari dalam ”
” Apa yang sebenarnya terjadi” 

Si ibu berdebat dalam pikiranya sendiri sambil menggengam gagang sapu dengan si bungsu terlelap digendongan. Si ayah berangkat kerja sambil mengantar anaknya yang kedua ke taman kanak-kanak.

                                                                                                                                               **

Bell sekolah berbunyi, dengan riang si gadis kecil mengayuh pulang sepedanya sambil saling ejek dan berlempar gurau bersama kawan. Tetibanya di rumah, seketika timbul perasaan tidak biasa dalam diri si gadis kecil, “ Wangi ” tercium bau harum dari arah dapur . “Asikk!” seru si gadis kecil. Rupanya ibu sedang masak opor ayam. Ia suka sekali opor ayam. Sampai-sampai ia hafal dengan aroma kaldunya. Setelah seragam dilucuti dan warna baju berganti, si gadis kecil bergegas menuju dapur menuju ibunya. Roman bahagia tersemai, manis kelopak mata berkedip, daun telinga memerah saat lidah mengecap hidangan favoritnya itu. “ Enak sekali ” pujinya pada ibu, ” pelan-pelan kak, makannya” kata si ibu. Tak lama berselang, suara knalpot sepeda bermotor terdengar dari arah teras. “ Itu ayah datang ” kata si ibu. Serentak dengan si adik gadis kecil itu turun dari kursi dengan sedikit melompat di ikuti adik nya yang lalu berlari menyambut si ayah. “ wah apa itu yah? ” tanya si adik kepada ayah, sambil menoleh kepada si kakak yang ternyata menyimpan pertanyaan serupa. “ Ini buah durian ” kata si ayah.
“ Lalu ini ? ” tanya gadis kecil itu sambil mengankat plastik kresek berisi dua buah alpukat. “ Itu, buah yang akan jadi buah favoritmu ”. seru  si ayah kepada putri sulungnya yang cantik.

Telihat si adik tetap terpaku pada buah durian. Heran dengan bentuk buah durian yang dipenuhi duri si anak gadis itu lalu bertanya “ Bagaimana cara makan ini ayah? ”, si ayah menjawabnya dengan senyum saja. ” Ayah! “ Si ibu menjawil si ayah tanpa di ketahui kedua anak nya yang sedang sibuk meneliti bebuahan tadi itu. Sambil membenarkan letak selendang gendongan si bungsu, ibu lalu berbisik “ Darimana dapat uang? ”

“ Kenapa beli buah mahal seperti itu ?!”

“ Kan bisa beli salak atau jeruk saja, atau bisa petik pisang di belakang rumah ”.
Pertanyaan ibu mencecar keramahan si ayah.

“ Sudah lah bu, biar anak-anak tahu rasanya buah enak”

“ Toh durian juga kesukaanmu ” jawab si ayah menggoda.

“ Ayah baru saja dapat rejeki ”, jelasnya lagi kepada si ibu.

“ Alhamdulillah kalau gitu, tapi kan.. ” 

” Ssstt ! ”, lihat tuh anak-anak .

Sambil mengarahkan pandangan ke kedua anaknya yang sedang menyentuhkan jari mereka ke kulit buah dan tak berhenti kagum. Isyarat dari si ayah kemudian menutup pembicaraan mereka. Lalu  ibu mengajak anak-anak kembali kedapur untuk meneruskan makan siagnya. Setelah menyelesaikan hidangan opor ayam terlezat sedunia, si gadis kecil bertanya tentang buah yang tadi di bawa ayahnya kepada si ibu. Buah yang menurut si ayah akan menjadi cikal bakal buah favorit si anak gadis itu kelak, Ini adalah hari yang bersejarah. Si ibu memberikan sebuah gelas dengan isian berwarna hijau kepada anak-anaknya. “ ini buah alpukat yang tadi, cara makanya pakai sendok”. jelas si ibu kepada anaknya. Rupanya dia memang suka sekali dengan buah alpukat itu. Si gadis kecil bahkan menghabiskan jatah alpukat kepunyaan adiknya, karena sang adik sebenarnya hanya tertarik terhadap buah berduri yang tadi dilihatnya diawal, “ Keren ” menurut si adik. Si ayah bergabung dengan keluarga seberes melepas seragam dan beralih kostum yang lebih santai.

“Ayah, aku mau yang itu” pinta si adik kepada ayahnya sambil mengarahkan telunjuk ke buahkeren bernama durian. Dengan sukarela si ayah membelah buah durian itu dan memindahkan dagingnya keatas piring lalu di taruhnya diatas meja makan. Ternyata  si adik tetap saja tidak suka dan kembali memberikan porsinya kepada si kakak, si sulung yang selalu menyukai hal baru tentu saja tidak menolak pemberian itu. Dia tidak suka baunya, menurutnya jauh lebih harum bau alpukat tadi itu, tapi dia menyukai rasa manis dan teksturnya.

“ Enak, yah” tukas si gadis dengan riang.

Hari itu begitu sempurna untuk sang gadis, baginya banyak sekali hal yang membahagiakannya . Malam datang lagi kegelapan kembali menghapus warna dari dunia. Sebelum berangkat tidur si gadis kecil mengeluh sakit perut. Mungkin karena terlalu banyak makanan yang iya jejalkan kedalam perutnya siang tadi. Dilihatnya si adik telah terlelap tidur di ranjangnya. Ia kemudian beranjak dari ranjang dan pergi menghampiri si ibu yang sedang meninabobokan si bungsu. “ Bu perut kakak mules”. si gadis merajuk pada si ibu. “ Ayah ada di teras, minta temenin ayah aja kak ”. Terlihat di teras si ayah sedang duduk mendengarkan pementasan wayang kulit dari radio kecil hadiah undian di tempat kerjanya. sambil menghisap tembakau tentu saja.
” Yah, kakak mau buang air ” ucapnya pada si ayah

“ Kakak kebanyakan makan durianya tadi ya?” tanya si ayah di ikuti anggukan yang di paksakan dari si anak gadis.

“ Ayah tunggu di dapur ya “

“ Nanti panggil ayah kalau kak sudah selesai”
“ Ini kak, bawa obatnyamuk ” 

Pintu dapur mengarah ke halaman belakang rumah. Di halaman belakang, tidak jauh dari pintu dapur terdapat sebuah bangunan terpisah dari bangunan utama, berupa tembok setinggi satu meter yang di gunakan sebagai tempat membuang hajat. Si gadis kecil berjalan tegas sambil menenteng obatnyamuk. Terdengar bunyi jangkrik sedang berkonser “Krik krik krik krik!” mengiringi prosesi masuknya kedalam bilik sempit becek dan penuh bau amoniak itu. Beruntung malam ini perusahaan listrik negara tidak menjatuhkan kehormatan kepada desanya untuk menyumbang energi dengan berhemat listrik, kalau tidak tentu saja suasana kakus akan ditambahi gulita. Lalu segera ia memelorotkan celana dalamnya dan duduk terjongkok diatas lubang kakus, sambil memegangi obatnyamuk bakar dan tangan satu lagi merengkuh gayung. Plung! Plung! Nyaring terdengar hingga luar tembok. Terdengar suara air membanjur kakus, Si ayah yang dari tadi duduk-duduk di dapur mendekati pintu untuk memeriksa, terlihat gadis kecil itu telah berdiri didepan pintu kamar mandi. “ Sudah kak? ” tanya si ayah. Lalu menggandeng gadis kecilnya itu masuk dan segera mengunci pintu. “ Krik Krik krik ” rupanya konser belum usai. Gadis kecil itu merasakan perutnya begitu melilit, walaupun tidak mengurangi porsi kebahagianya yang sedari siang tadi terisi. Plung! Plung! Timun emas kembali terjun menerobos lubang kakus dan disusul banjuran air penghilang jijiknya. Cebok adalah aktivitas yang hampir mustahil dilakukan oleh seorang gadis kecil, tapi ia menyelesaikan tugas dengan sempurna. Seberes cebok gadis itu mendorong pintu kamar mandi dan mendapati dirinya terkunci dari dalam rumah.

“ Ayah.. buka pintunya yahh!” panggilnya ke dalam rumah, tapi tidak ada suara pun menyahuti hanya jangkrik yang terkrikkrik yang menjadi teman duetnya malam itu.
” Ibu, aku masih diluar ”
” Ayah, kenapa pintunya dikunci ” Gadis kecil itu menggedorkan tanganya ke pintu, tapi nihil jawaban dari dalam rumah, seolah seluruh keluarga telah tertidur pulas.
Bingung dengan kemalangannya, gadis itu memutuskan untuk pergi saja ke teras depan, setidaknya disana ada kursi untuk alas punggung. Kemudian berjalanlah ia kearah utara lewat sebelah timur bangunan rumahnya. Rute tersebut adalah yang paling dekat, walaupun mengambil jalan memutar adalah pilihan yang masih masuk akal. Rumahnya bukanlah rumah yang besar dan tidak membutuhkan usaha lebih untuk jalan berkeliling. Suara jangkrik terdengar lebih nyaring di luar rumah, seperti serangga itu berada tepat di bawah kakimu. “ KRIK KRIK KRIK KRIK !” .“ Maaf kalu aku menginjakmu”, bisik gadis kecil itu dengan kepalanya sedikit menunduk. Lalu setelah ia mengankat pandanganya, ia kaget buakan kepalang dalam keherananya, seolah semua suara jangkrik itu lenyap dan panca inderanya mati kecuali penglihatanya “ Bagaimana ada manusia setinggi itu” tanyanya pada dirinya sendiri. Perlahan indera perabanya merasai hawa magis yang membuat tengkuknya berkerut geli, Darahnya terpompa deras oleh jantung, nafasnya memburu, Kakinya gemetar dan muka gadis itu di banjiri peluh.
Sebuah bayangan makhluk seperti manusia yang begitu tinggi, lebih menjulang daripada pohon-pohon kelapa. Kakinya menyerupai batang pohon kelapa itu sendiri. Makhluk itu hanya diam saja walaupun mata merahnya tetap mengawasi. Dengan usaha terakhirnya sebelum hilang sadar, lari lah gadis itu kembali kearah selatan melewati belakang rumahnya menuju jalan setapak ke rumah kakeknya yang ada di seberang. Beruntung si kakek sedang duduk di lincak depan rumah sambil melinting tembakau. Si kakek tergopoh menghampiri cucunya yang sedang berlari. Dilihatnya cucunya itu tengah ketakutan akan sesuatu. Gadis itu terlihat begitu pucat, dengan nafas yang masih tersengal sengal dan keringat dingin memenuhi dahi. Si kakek segera membopongnya masuk dan meninggalkan lintinganya tetap di lincak. Si kakek cukup bijaksana untuk tidak melemparkan pertanyaan bodoh kepada seorang gadis kecil yang baru saja berlari sejauh lima ratus meter dengan deraan rasa takut. “ Endah tidur di rumah kakek aja ya malam ini, Besok subuh kung antar kerumah ” . Ya, gadis kecil itu bernama endah. Endah adalah anak dari keluarga sederhana dari buah perkawinan anak seorang petani dan anak seorang buruh tani merangkap penggali kubur.

                                                                                                                                                       *

Subuh di bulan kemarau, paginya sangat dingin. Kabut semburat memenuhi seisi halaman, sawah dan jalan-jalan . Subuh itu si kakek berjalan kaki sepulang dari langgar. Dingin kabut begitu mengganggu, hingga membuat balutan sarung tiada berarti. Si kakek buru-buru pergi kerumah anaknya untuk memberitahukan bahwa cucunya ada bersamanya tadi malam, apalagi pagi ini  adaprosesi pemakaman. Si kakek mendapat permintaan menggali makam oleh rukun warga sebelah, seorang perempuan hamil meninggal kehabisan darah karena kecelakaan tunggal. Ironis sekali menurutnya, masyarakat desa yang seharusnya memiliki empati, simpati tinggi berubah menjadi manusia antipati hanya karena berubahnya teknologi. Betapa seorang yang tengah alami musibah menjadi tontonan dan ajang pamer informasi terupdate belaka. Informasi menjadi lebih berharga daripada nyawa manusia, siapa yang punya informasi pertama di puja seolah dewa. Si kakek tiba di depan rumah anaknya, dan betapa kagetnya si kakek itu saat ia mendapati sesosok perempuan berambut panjang mencapai dengkul berbaju merah darah sedang bertengger di atas genting rumah anaknya. Seketika itu si kakek berlari terbirit menuju rumahnya sendiri menghampiri cucunya yang sedang terlelap sambil berucap“CELAKA! CELAKA!”.

– BERSAMBUNG-

Citizen
Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu