Dibayar Lunas

Aku ini jalang, tubuhku di remas bermacam orang, nilaiku sama walau di tukar untuk benda yang berbeda, aku pujian sekaligus hinaan. Aku sebagaimana tuanku menggunakanku, kadang untuk keperluan baik, sering juga untuk keperluan remeh-temeh hingga yang paling buruk untuk membeli sejumlah botol anggur atau membayar wanita-wanita malam yang menjajak diri di trotoar samping jembatan. Kini, tuanku hampir sama banyak dengan jumlah nol yang ada di belakang angka satu kepunyaanku. Kuharap dia tuan yang baik dan menggunakan jasaku untuk keperluan yang juga baik. Langit masih gelap dengan semburat awan senja tak nampak jingga, tapi sore tetap saja waktu yang niscaya. Aku di dalam sebuah kantong celana yang kuyup oleh hujan meradang sedari siang. Di kota pegunungan seperti ini curah hujannya memang begitu ramah menyapa permukaan, untuk sekedar merintik dan membasuh tanah. Seperti siang ini contohnya, walau hujan mengguyur begitu singkat tetapi terasa galak dengan curahnya yang melantak. Tuanku tetap beerkendara selama hujan galak mendera, andai tidak di masukan ke dalam kantong, tentu saja aku sudah koyak oleh hujan. Roda sepeda motornya yang mengkilap di lumat air ujan itu kini telah berhenti, tuanku turun dari kendaraan yang membawa bertundun-tundun pisang di boncengan kanan kirinya. Kami mendatangi kebun pisang lagi, seolah belum puas dengan muatan yang hampir menelan pemuatnya itu sendiri. Kali ini pemiliknya seorang tua dengan rambut sedikit beruban dan kulit coklatnya yang mulai keriput. Tuanku bercakap – cakap dengan calon tuanku yang baru, sekilas ku ketahui namanya itu Karmoiran. Percakapan menjalar dari hal remeh yang saling dihubungkan hingga seolah mereka adalah kerabat satu trah yang selama ini terpisah, kemudian mengerucut dan sampai juga pada ujung pangkalnya yaitu tambahan sejumlah rupiah yang tak seberapa nilainya, hal yang biasa terjadi sebelum aku di pindah tugaskan. Karmoiran memiliki tangan yang kasar, jelas sekali bahwa tuanku ini orang kampung. Seperti kebiasaan orang kampung lainya yang sering memilikiku selama ini, aku tidak akan disimpan ke dalam dompet yang bagus bersama lembar-lembar uang sejenisku lainya. Walaupun yang seperti itu masih lebih aku sukai dari pada yang ku alami dua hari yang lalu dimana saat itu aku masih bertuankan preman sontoloyo yang pada akhirnya aku di berikan secara sembrono dengan diselipkan di celah paha seorang perempuan nakal saat sedang tertidur setelah berjam-jam di ajak bercinta. Kenyataannya memang itulah yang terjadi, aku diselipkan kedalam celah songkok Karmoiran bersama dua lembar uang lima ribuan bau dan satu lembar dua ribu kumal yang hampir sobek. Begitulah ceritanya kemudian aku di bawa pulang kerumah Karmoiran. Sebidang rumah pelana beratap genteng tanah berwarna coklat kehitaman akibat lumut dan hujan, lantainya dari tanah dan penutup dapurnya dari seng yang gerimpis oleh karat, lalu pintu masuknya dari triplek dengan handel tali rafia yang di beri penyangga dari potongan bambu yang di paku pada tengahnya. Hanya terdapat empat ruangan pada rumah itu, ruang pertama yaitu kamar yang dibiarkan kosong , kamar kedua dengan kasur lawasnya yang sudah mengeras sebagai alas tidur, dapur nya hanya berisi soblok, rak piring, sendok, tungku dari gerabah , gentong beras yang kosong dan kayu bakar, satu – satunya hal yang bagus dari rumah itu hanya ruang tamunya yang walaupun sempit terdapat keindahan sejati, yaitu sepasang hiasan dinding dari pigura kaca bertuliskan lafad Allah SWT yang berdampingan dengan lafadz Muhammad SAW di gantung di sebuah tembok anyaman bambu yang di cat putih tulang, atau

barangkali cat putih yang telah menguning karena usia. Pastilah aku akan segera di belanjakan, pikirku setibanya dirumah itu ternyata aku salah dan aku masih terselip di songkok karmoiran hingga pagi menjelang. Uang dua ribuan yang kumal tadi malah sudah mendahuluiku pergi tetibanya kami dirumah ini, tuanku karmoiran memberikanya kepada istrinya dan tak lama berselang istrinya pulang membawa tempe dua potong dan satu bungkusan plastik hitam. Pada malam itu keduanya makan dengan tempe dan nasi jagung pemberian, juga sepasang ikan asin yang diberi sedikit sambal di atasnya. Tuanku karmoiran seorang tua yang hidup hanya di temani istrinya Prihatiningrum, tak ada ku lihat anak keturunanya selama aku menginap dirumahnya malam itu, hanya terdengar tiga nama disebut-sebut olehnya pada akhir doanya setiap akhir sembahyang, lalu sebelum tuanku memulai tidur dia bertanya kepada istrinya prihatiningrum “ Apakah ada telfon dari jakarta atau barangkali dari surabaya atau semarang ? ”, tapi istrinya hanya menghela nafas dan mengusap dada karmoiran lembut, sambil berbisik di telinganya ” Anak-anak masih sibuk kerja pak ”.
                                         –
Pagi- pagi sekali tuanku bangun dengan begitu bersemangat. Karmoiran pamit kepada istrinya untuk pergi sembahyang di surau dan langsung pergi ke pasar, menumpang Tukimin si tengkulak beras. Lima ribuan pergi keluar dan di tinggal bersama istrinya, kini hanya tersisa aku dan lima ribuan yang lebih kumal di songkok karmoiran. Sambil berucap salam pada istrinya prihatin, tuanku bergegas pergi ke surau dengan langkah tegas dan mantap seolah hari ini adalah hari yang sangat ia nantikan sejak lama. “ Pak Iran sudah sehat pak? ” tanya tukimin, senyum karmoiran dan sedikit anggukan tanda mengiyakan memantapkan hati tukimin untuk membawa serta karmoiran ke pasar ikan, mengingat jarak tempuh yang lumayan jauh dari kota pegunungan menuju kota pesisir. Pagi yang sibuk di sebuah pasar ikan di dekat dermaga kapal kota P di timur pulau. Seperti namanya, pasar ikan tentu lengkap dengan bau amis dan suasana riuh ramai, beberapa laki-laki memanggul beras, gula , bersak-sak sayur dan sembako, Sementara para pedagang bersiaga di lapaknya masing-masing menata daganganya sambil mengipasi lalat yang ramai hinggap. Pagi itu Karmoiran terlihat begitu bergembira, dia berkeliling pasar menyapa setiap pedagang yang di temuinya dan setiap orang yang bersisih pandang denganya seolah lama tak berjumpa. Sesaat kemudian dia menyalami seorang bapak-bapak penjual ikan, bercakap-cakap mengenai sakitnya yang kurang ajar dan juga berita tentang wabah yang sempat membuat geger. Menurut berita yang menyebar saat wabah ini datang maka pasar-pasar akan di tutup dan tidak di perbolehkan berjualan. Setelah puas bertukar kabar, karmoiran kemudian mengeluarkanku dari lipatan songkok-nya dan sebagai gantinya dua ekor ikan segar diberikan kepada karmoiran, jika kau bertanya padaku tentu aku akan berkata itu keterlaluan bahkan aku berani mengutuki kebodohan karmoiran karena hal itu. Sejurus kemudian ku ketahui, nyatanya aku bukan di gunakan sebagai alat tukar untuk dua ekor ikan kecil itu, tetapi sebagai pelunas hutang tuanku kepada pedagang ikan ini. Di pasar ikan yang bau amis ini tentulah aku akan tinggal sedikit lebih lama, kecuali ada seorang saudagar memborong dagangan tuanku, atau tuanku sedang untung besar dan aku di belanjakan ke kota. Cahaya matahari terangkat naik, lampu-lampu tidurkan, lampu alam mengambil alih kekuasaan pagi hari yang sibuk di sebuah pasar ikan yang riuh ramai ini. Karmoiran rupanya masih betah dengan kesibukan pasar, kerinduanya mengalahkan amisnya bau ikan yang menyengat. Dia berdiri mengawasi sambil tersenyum puas seakan seluruh bebannya terangkat seperti balon yang ditiup udara, membumbung semakin ringan menuju ke angkasa yang lengang dan damai. Sadar dirinya sudah setua ini, karmoiran sepertinya terlalu memaksakan diri untuk berdiri, kakinya mulai lelah juga, dia kemudian duduk di sebuah Lincak Bambu yang terletak di samping gudang Es batu sambil tetap mengawasi lalu lalang orang-orang saling tawar menawar barang dan juga senda gurau pelapak ikan beradu riang sekaligus juga menunggu tukimin selesai meloper berasnya.
” Numpang Duduk nak “ Ucap Karmoiran kepada pemuda yang berada di dalam gudang.

“ Silahkan, pak” Balas pemuda itu sambil menata balok – balok Es batu dan melayani penduduk pasar ikan
” Sudah sembuh pak?, lama tidak berjumpa ” kata salah seorang pembeli es batu yang juga kenal dengan karmoiran
” Tidak beli ikan lagi pak ?, gampang di bayar besok juga tidak apa-apa” kata yang lain lagi menawari.
Beberapa kali Karmoiran di tegur oleh pedagang-pedagang ikan yang kebetulan pergi membeli Es batu di gudang itu. Begitu pula kemudian aku di tukar dengan Es batu oleh tuanku penjual ikan kepada pemuda pemilik gudang es batu. Karmoiran hanya tersenyum sambil sesekali melambaikan tanganya. Tanpa sadar kaki karmoiran kemudian di selonjorkan dan punggungnya menyender pada tembok gudang, dia perlahan memejamkan matanya dengan tangan masih memegang plastik berisi dua ekor ikan pemberian temanya si penjual ikan, Sepertinya karmoiran bangun terlalu pagi dan sisa kantuknya mulai menagih jatah kepadanya kali ini. Tuanku yang baru si pemuda pemilik gudang Es batu memperhatikan Karmoiran sambil tetap mengeluarkan balok-balok Es batu dari penyimpanannya. Setelah selesai tuanku menyempatkan untuk menegur karmoiran yang terlihat tertidur pulas samping gudang Es miliknya dan berniat menawari tempat yang lebih layak di dalam gudangnya, sekaligus kopi sebagai penghangat tubuh bila perlu. Dihampirilah Karmoiran itu kemudian oleh tuanku dan Karmoiran ternyata sudah lemah dengan nafas yang semakin hilang dan telapak kaki mulai menguning karena darah yang tak lagi mengalir kebawah. Di pegangnya denyut nadi si tua karmoiran sambil tuanku berteriak memanggil bantuan. Orang pasar sebentar saja sudah penuh berkerumun di gudang es milik tuanku tanpa menghiraukan si tua karmoiran yang telah lemah dan butuh ruang untuk bernafas, mereka sebenarnya hanya penasaran dengan apa yang sedang terjadi tanpa menghiraukan teriakan dari tuanku. Sebenarnya seminggu yang lalu di pasar ikan ini di datangi pegawai pemerintah berseragam coklat-coklat yang memperingatkan orang-orang pasar agar jangan berkerumun, karena akan menyebabkan penularan virus, dunia sedang dalam keadaan darurat katanya. Apabila penduduk pasar tidak menurut, maka secepatnya pasar akan di tutup dan tidak di ijinkan beroperasi kembali. Tuanku Mengingatkan, tuanku memang punya kuasa untuk mengusir kerumunan yang mulai berjejal di gudang es miliknya nya.

“ Yang kenal dengan Bapak ini. Cepat kemari bantu saya, yang lainya cepat kembali ke lapak masing-masing sebelum di bubarkan paksa “ kata pemuda itu kearah kerumunan.
” Itu teman saya mas” jawab seorang dari arah kerumunan yang ternyata tukimin, dia datang dengan mimik muka panik dan wajah pucat karena ketakutan, seolah dia sendiri yang telah membunuh karmoiran, beberapa penduduk pasar lainya segera membantu termasuk bapak penjual ikan yang tadi sempat memilikiku sebentar saja. Nafas si tua karmoiran berangsur menghilang, juga denyut nadinya
telapak kakinya sudah pucat dan matanya yang tertutup menyisakan sesungging senyum dan muka cerah.
” Innalillahi wa innalillahi rojiun, dai telah berpulang” kata bapak penjual ikan.
” Bapak ini sudah meninggal!”
Tukimin gagal menghubungi Anak-anak karmoiran walau memiliki kontaknya bahkan kontak prihatin istri karmoiran, mungkin karena terlalu panik dan ketakutan. Akhirnya karmoiran di bawa masuk ke gudang milik tuanku di bantu bebrapa penduduk pasar yang kenal dengan si tua karmoiran. Serentak mereka sibuk dan teralihkan dari dagangan mereka sendiri. Ada yang mempersiapkan kendaraan, kain semampu usaha mereka untuk memuliakan seorang teman yang telah berpulang. “Saya mohon jangan ada yang mengambil foto atau merekam” tuanku berbicara kearah pasar, tentu saja untuk melindungi penduduk pasar sendiri karena ancaman dari petugas yang tempo hari datang bukanlah guruan belaka atau kenakalan petugas yang kehabisan uang jajan. Dia tau karena memang dia mengikuti berita dan dia juga kenal dengan beberapa aparat. Untung saja semua orang di pasar menurut dan juga tutup mulut. Walau lama-lama akan tersebar pula berita itu kemana-mana. Seseorang mati di pasar ikan setelah melunasi hutangnya, Yang lain akan berkata di pasar ikan ada seseorang mati sambil tersenyum. Setelah Karmoiran di angkut pulang suasana pasar tak lagi sama, setiap orang yang sibuk dengan daganganya kini bertambah sibuk dengan pikiran mereka sendiri. “ Apa yang telah aku persiapkan jika saja hal yang sama terjadi padaku “ ujar mereka dalam hati.

Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu