Historical Fiction Bersemi tapi malu-malu

       Historical Fiction atau dalam bahasa berarti Fiksi Sejarah, adalah salah satu genre sastra yang plotnya mengambil latar di masa lalu. Bagi penduduk bumi yang berjiwa melankolis seperti saya ini, tentu saja Historical fiction merupakan jendela ilmu yang lebih elegan untuk di tengok dibandingkan harus membaca buku paket sejarah, atau buku non fiksi yang terkesan menggurui. Gaya bertutur yang mendramatisir seperti di dalam dongeng menjadi daya pikat utama bagi pembaca, membaca kisah-kisah itu seperti memanjakan imajinasi dan membangkitkan nyala api didalam jiwa. Fiksi Sejarah umumnya digunakan sebagai sinonim untuk novel sejarah, walaupun begitu. Kekinian, istilah ini juga dapat diterapkan pada jenis narasi lain, termasuk teater, opera, bioskop, dan televisi.

      Belakangan, jagad hiburan tanah air juga mulai ramai mengusung gaya ini dalam membuat karya-karya visual. Sebut saja film Bumi Manusia yang di bioskopkan 2019 lalu, film ini segera saja menjadi titik tolak bagi penduduk tanah air untuk mengenal lebih jauh mengenai cerita dalam semesta bumi manusia. Melambungkan kembali Maha Karya Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru. Tentu saja masih banyak lagi karya sastra yang ber-genre serupa dan tidak kalah brilian dari milik Pram. Pram tetaplah legend, tetapi sejarah Indonesia apalagi Nusantara terlalu kaya akan cerita-cerita untuk di buku kan melalui karya sastra Pram seorang, sastrawan-sastrawan inlander lainya seperti Eka Kurniawan dengan Cantik itu luka, Pidi Baiq dengan Helen dan Sukanta hingga pemenang Kusala Sastra dalam dua tahun lalu juga banyak mengusung Genre Fiksi Sejarah; Kura-kura Berjanggut karya Azhari Aiyub 2018,Teh dan Penghianatan karya Ikhsaka Banu 2019.

“ Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah” begitu kata Bung Karno pada pidato kepresidenannya yang terakhir tahun 1966.

“ Lalu apa kami harus membaca buku sejarah yang tebal dan membosankan itu Bung?. Bung sendiri pernah berujar apabila sejarah itu bukan melulu pengetahuan tentang tahun kejadian, lebih soal penalaran mengenai mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi di planet bumi.” tanyaku menggebu-gebu

“…..” Bungkarno diam tidak menanggapi.

” Bung pastilah tak mengenal guruku-guru kami, guru-guru kami lebih berkenan apabila kami mendapat nilai tinggi dalam lomba hafal-menghafal tanggal ” kataku menambahi

“ Kenapa tanya saya, kamu cari sendirilah caranya. Saya kan hanya menghimbau ” Jawab Bung Karno dalam imajinasi saya sendiri.

        Historical Fiction kemudian hadir merubah dunia, Seperti seorang Avatar aang yang dinanti-nanti permunculanya untuk membawa dunia sedikit lebih baik. Lalu kapan dan siapa yang memperkenalkan genre ini kepada penduduk bumi?..  Historical Fiction sebagai genre sastra Barat kontemporer memiliki fondasi dalam karya Sir Walter Scott awal abad ke-19 dan orang-orang sezamannya dalam sastra nasional lain seperti orang Prancis Honoré de Balzac, James Fenimore Cooper dari Amerika, dan kemudian Leo Tolstoy dari Rusia. Setidaknya itulah yang tertulis di Wikipedia. Anyway, sewaktu masa kanak-kanak dulu sesungguhnya kita telah mengenal gaya bertutur Historical fiction dari simbah-simbah kita. Cerita tentang aji saka yang melatar belakangi lahirnya aksara jawa merupakan salah satu contohnya. Mungkin esensi nostalgia seperti itu juga yang membuat saya jatuh hati kepada buku-buku fiksi sejarah dari pada buku sejarah berlabel kurikulum yang lebih tipis dan murah itu. Bagaimana menurutmu?.. Walau saya bukan dari golongan penduduk bumi yang sudah adil dan makmur, tentu saya lebih memilih menabung untuk membeli buku-buku karya sastrawan inlander tersebut dibandingkan harus membaca seseorang yang sedang berceramah. Dan tetap berharap semoga saja pada tahun-tahun mendatang akan diberlakukan subsidi pada pembelian buku-buku diluar kurikulum semisal buku-buku novel dan sastra.

       Jujur saja mengetahui keutuhan sebuah cerita lebih menyenangkan dibandingkan harus memahami ringkasan pendek kejadian sejarah dan dipaksa untuk meyakininya sebagai sebuah informasi yang benar. Walau ada sebagian yang berpendapat buku fiksi sejarah tidak dapat di jadikan acuan dalam kebenaran sejarah, karena tidak memberikan informasi yang lengkap mengenai peristiwa sejarah.
       Jika kalian bertanya padaku tentu saja aku akan berpihak kepada buku fiksi sejarah. Persetan dengan pendapat itu, bagiku sebuah buku ataupun literatur non fiksi merupakan sebuah kamus bahasa. Bagaimana kamu bisa pandai berbicara atau menelaah sebuah percakapan jika hanya menghafal kosakata, sampai mampus juga tak akan mengerti. Sungguh prihatin nasib literasi.

Bukankah kemendikbud telah mencondongkan diri ke literasi, buktinya di platform Spotify di buatkan sandiwara audio “Podcast” tentang sastra. Ya.. jika itu di jadikan bahan untuk pembelajaran bagi kaum muda tentu itu ide yang brilian, sastra yang menjembatani pengetahuan sejarah. Romantis sekali. Rupanya strata atas mulai lebih perduli pada strata di bawahnya, mari kita juga sambut surat cinta itu dengan lebih bergiat lagi memburu buku, supaya literasi tidak bersemi malu-malu.

Dengan itu pastilah popularitas buku-buku akan mengalahkan popularitas tiktok. Bayangkan saja jika 70 Persen penduduk indonesia telah sadar literasi, tentu jika setiap malam ada perkumpulan sosialita, nama-nama seperti Roro Mendhut, Anelis Melema, Rengganis yang akan menjadi topik perbincangan bukan lagi Gisel Anastasya.

Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu