Jancuk! Tak Sekasar Itu, Bahasa Bukan Rumus Baku

Jancuk, sebuah kata tanpa makna jelas. Jika kamu tinggal di belahan pulau jawa sebelah timur, tentu saja kamu tidak akan berasa asing mendengarnya, atau barangkali mengucapkanya. Banyak yang berpendapat bahwa kata jancuk berasal dari nama seorang pelukis benama jan cox, dalam cerita yang lain itu adalah merek sebuah tank belanda, atau sebuah singkatan dari makanan trasisional “jajan pincuk”. Entah cerita mana yang benar-benar moyang dar jancuk ini, sampai-sampai namanya kesohor keseluruh pulau. Walau trah makna dari jancuk ini masih samar-samar akan tetapi sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa Jawa Timur khususnya kota surabaya-lah yang telah berjasa melahirkan kosakata jancuk ini.

**

”Jancuk..!” Pekik seorang laki-laki berbaju bonek, yang kemudian berlari mengejar sebuah mobil ber-plat nomor “ N ” sambil tangan kirinya memegang batu bata dan masih berteriak mengutuk-ngutuki. “ Pyyarrrrr “ kaca mobil bagian belakang pecah. Suara gaduh itu sontak saja mengundang krumunan masa, sampai pada akhirnya polisi datang dan membawa pergi seorang laki-laki yang mukanya penuh darah dengan pelipis bocor dan matanya yang sipit lebam biru.
__

Kata jancuk bagi masyarakat Jawa Timur sudah seperti imbuhan wajib digunakan untuk sebuah percakapan. Walaupun bagi masyarakat di luar jawatimur kata “ Jancuk ” sendiri masih memiliki visualisasi yang buruk sebagai sebuah kata sisipan. Kata jancuk seringkali disifati sebagai makian ataupun hardikan terhadap seseorang. Seseorang yang menyisipkan jancuk di percakapanya kerap di sebut urakan dan kurang ajar.

**

Kota Surabaya di hari libur sekolah adalah medan tempur eksistensi dimana setiap pemudanya terbakar gairah, dan tertantang ber-adu-ekspresi. Pagi itu di dekat saluran air kota surabaya bertengger perkampungan kecil yang berjajar tembok semi permanen hingga seolah itu adalah pagar dari sungai saluran air kota. Bagi sebagian orang itu adalah tempat yang kumuh, tapi bagi sebagin kecil lainya itu adalah tempat tinggal mereka. Seorang anak laki-laki setingkat SD sedang menikmati waktu bebasnya sambil mengendarai sepeda BMX dengan tangan kiri-nya menggenggam erat ujung plastik 1/4 kilo dengan sedotan plastik terselip di tengahnya dan cairan kuning yang menurut penjual minuman dekat terminal mengandung rasa mangga. “Jancuuk Mbahh ” sambil menundukan kepalanya, anak itu berlalu melewati seorang lelaki tua yang sedang duduk di teras rumahnya. “ Ngihhc” sahut si lelaki tua dengan pandangan mata kataraknya itu lurus saja kedepan tanpa fokus kemanapun. Anak laki-laki itu terkekeh hingga tanpa sadar tersedak minumanya sendiri lalu terjatuh dan ujung bibirnya terbentur setang sepedanya sendiri.
__

Seorang filsuf asal Austria berkenamaan, Ludwig Wittgenstein. pernah berpendapat bahwa bahasa, lahir dari suatu konteks. Konteks itu disebutnya sebagai permainan bahasa (language games). Di dalam permainan bahasa, ada aturan yang harus dipatuhi.
Makna suatu kata atau suatu aktivitas selalu harus dilihat dalam konteks permainan bahasanya. Kata jancuk berubah makna dan siftnya seiring suasana kejadian dan objek yang di comblangi dengan kata jancuk tersebut.

***

19 September 1945. Hariyono dengan keberanian seekor harimau dan tekat abimanyu, merobek bendera triwarna di hotel yamato waktu itu. Bendera merah putih berkibar sebelum kemudian hariyono tewas tertembak. Hotel bersejarah itu saat ini berganti nama menjadi hotel majapahit setelah sukses meraih predikat hotel bintang lima. Seorang lelaki dengan setelan tuxedo berjalan keluar dengan langkah panjang yang sedikit bernada antusias. “cuk!.. Piye kabare cuk” sapanya tertuju kepada seorang lelaki kurus bersetelan wisata, lengkap dengan tas ransel dan topi rimba khas fiersa besari. “ Jancuk, arek iki wes dadi boss tenan rek ” jawab lelaki bertopi rimba itu, kemudian melepas ranselnya untuk berlalu menyambut jabatan tangan dan pelukan hangat seorang sahabat.

__

Wittgenstein juga menambahkan, bahwa makna dari suatu kata tidaklah melulu lahir dari konteks semata, tetapi juga dari penggunaannya. “Meaning as use” begitu katanya. Makna kata “jancuk” tidaklah lahir dari kesepakatan semata, tetapi dari bagaimana kata ini digunakan di dalam interaksi manusia sehari-hari.

***

Suasana sore dengan kehadiran langit jingganya memang sungguh mempesona. Rokok tinggal tersisa satu batang. Aku pergi keluar rumah untuk menengok senja yang mempesona itu. Aku buka pagar rumahku sambil sedikit membenampak muka kesamping pagar, untuk menyulut api pada tembakau gudang garam itu. Sayup-sayup kudengar suara dari arah timur laut rumahku “ Jancuk, jancuk, jancuk,jancuk, jancuk jancuk jancuk… ” kuperhatikan lagi suara itu makin jelas menyebutkan “ Jancuk ” sambil terus melangkah dan menghisap rokok-ku semakin jelas suara itu mengalun seolah mengiringi lipatan lipatan asap rokok yang mengepul keluar dari hidung dan ujung bibirku. Kupastikan suara itu memang dari rumah tetanggaku, suaranya seperti lagu “Aku seorang kapiten” dengan “ JANCUK ” sebagai penganti seluruh liriknya. Kutengok dari sisi pagar rumahnya, seorang anak berusia empat tahun duduk di teras rumahnya menatap kearah langit, sedang bernyanyi lagu “Jancuk”.
___

Kata hanyalah kata
Hatimu yang mampu memberi makna

Jancuk adalah makian jika kau gunakan untuk memaki

Jancuk adalah panggilan keakraban
Jancuk-i-lah karibmu bersama perasaan rindumu

Jancuk adalah kata sisipan
Jancuk adalah kata yang tiada arti

Jancuk adalah kamu dan aku sendiri

Jancuk adalah simbol proletariat
Jancuk meluluhkan kesombongan dan sekat sosial.
Jancuk ! tak sekasar itu,
Bahasa bukan rumus baku.
Ucapkanlah jancuk dengan kerendahan hati
Jancuk adalah secangkir cinta

Probolinggo 19 October 2020

Citizen
, ,
Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu