Sepakat Memaafkan

Sepakat Memaafkan

Sepakat Memaafkan

Belakangan ini banyak orang memperdebatkan ungkapan dari pak lurah perihal “Mudik” dan “Pulang kampung”. Saya sediri termasuk salah seorang yang kurang update terhadap berita seperti ini dikarenakan saya tidak punya televisi untuk di tonton. Hanya selintas informasi dari obrolan antar teman yang akhirnya menyebabkan saya mendapat informasi dan menanggapi berita. Pada pekan lalu, ramai di status dan grup-grup wa tentang petuah mudik dan pulang kampung yang bahkan sampai menjadi bahan olok-olokan teman-teman dan tetangga saya. Hingga tetangga saya kemudian ada yang bertanya pada saya, entah untuk mengetes saya atau memang betul-betul bertanya mengenai kejelasan berita tersebut.

“Mudik dan pulang kampung itu bedanya opo?” katanya dalam bahasa lokal.

“Mudik itu singkatan dari muleh disik (pulang dulu-red), lha kalau pulang kampung disingkat kan jadi pulkam, beda itu.”, gurauku menjelaskan.

“Lha terus bedanya itu opo? hanya tulisannya saja toh!“ tanyanya lagi sambil menerangkan bahwa menurut pak lurah, terdapat perbedaan dalam dua kata kerja tersebut.

Embuh mas, aku nggak tahu“, jawabku singkat karena aku sendiri tidak tahu sebenarnya pak lurah ngomong apa. Walaupun batinku gemas merasai kegaduhan masyarakat yang senang memperdebatkan masalah sepele. Hingga beberapa hari kemudian aku mendapat pesan wa dari temanku yang berisi link artikel tanggapan mengenai kegaduhan yang menggemaskan ini, yang berjudul “Melawan Para Pemuja KBBI”, diwartakan pada news.detik.com dan di tulis oleh Iqbal Aji daryono selaku penulis buku Berbahasa Indonesia Dengan Logis Dan Gembira.

Setelah membaca artikel itu, barulah saya tahu bahwasanya kata-kata tersebut sekonyong-konyong diciptakan oleh pak lurah untuk menghimbau masyarakat, guna mengantisipasi penularan virus corona dari zona merah ke desa-desa karena wabah ini. Ya, maklum berbarengan dengan hari raya umat islam yang terhitung kurang dari satu bulan lagi gelombang mudik memang bisa mencapai puncaknya. Dan saya juga sekonyong konyong menjadi terilhami untuk menulis cerpen berikut ini. Yuk baca deh.


 

Yogyakarta 2017, cahaya api langit mulai luntur menjadi kuning kemerahan dengan sentakan panas yang begitu centil tapi malu-malu melewati kaca jendela bus angkutan umum untuk menyapa kulit tubuh. Siang itu, aku seperti kebanyakan orang indonesia lainnya yang sedang meniti perjalanan bersama suasana sukacita untuk kembali menuju asingnya perantauan dengan membawa kenangan indah selama sepekan di kampung halaman Purworejo tercinta. “Pukul tiga rupanya” aku melirik kearah kaca ajaib di saku bajuku, dan bus pun berhenti, kami tiba di terminal Giwangan bersama dengan bergugus-gugus manusia lokal yang bertolak dari berbagai pelosok tengah pulau jawa dengan pelbagai oleh-oleh yang di gembol demi bisa beramah tamah di tempat perantauan.

“Ting ting ting ting ting… giwangan giwangan giwangan ..”, suara pak kernet terdengar nyaring beriring suara koin lima ratus perak yang dibenturkan ke tubuh besi pegangan tangannya, Suara romantis penanda akhir perjalanan rombongan dan perintah kilat untuk meneruskan perjalanan kami masing-masing menuju perantauan. Dengan gopoh aku mengendong tas dan memanggul kardus menuju pintu keluar bus yang di depanya sudah berdiri kuli panggul untuk menawarkan bantuan tenaganya demi sejumlah rupiah.

“Tindhak pundhi mas? Monggo kula betha’aken” tanya seorang bapak kuli panggul menawari jasa.
“ Tindhak probolinggo pak” jawabku sambil berlalu pergi, bukan karena aku medhit, tapi waktu itu dompetku sukar diambil karena ku taruh terlalu dalam dan dua tanganku juga sudah penuh dengan barang bawaan. Aku menuju peron bus jurusan jember,banyuwangi, dalam pandanganku terlihat ada satu bus yang sedang parkir, tetapi sudah terisi penuh dan bus lainya sudah melaju dengan isian yang kurang lebih sama. Kemudian aku letakan barang bawaanku, lalu aku hampiri bapak-bapak agen tiket berseragam warna merah yang sedang berdiri ditengah kerumunan, terdengar bapak itu menjelaskan kepada kerumunan calon penumpang, bahwa semua kursi telah habis di pesan, dan penumpang diarahkan untuk menaiki bus jurusan surabaya atau menunggu datangnya bus tambahan karena salah satu armada bus untuk penumpang umum mogok atau sedang diperbaiki. Setelah mendengar penjelasan tersebut aku berjalan kembali ke tumpukan barang bawaanku tadi, yang sejenak aku telantarkan, Kemudian aku merogoh pada satu tas yang berisi perbekalan dari emakku tersayang lalu duduk lah aku bersilah ditrotoar sambil tangan menyendok nasi bertabur kering tempe dan irisan telor asin. Seberes makan kemudian, aku mengambil kaca ajaibku dari kantong baju dan lalu mengirim pesan kepada keluarga di kampung bahwa aku sudah sampai di terminal dengan imbuhan pesan bahwa aku akan menumpang bus tambahan, sekedar mereka tenang.

Hari semakin sore kemudian aku mencari rombongan yang tadi bergerombol disini, rombongan yang aku yakini sejalan denganku ke arah timur, dan sejurus kemudian kudapatilah mereka itu berkumpul di samping bus jurusan jember,banyuwangi yang tadi di ceritakan sedang dalam perbaikan. Terlihat dari jangkauan mataku ada dua laki-laki bule yang sedang menunjukan kertas kepada beberapa penumpang dalam rombongan, dengan gugup salah satu penumpang menunjuk kearah agen bus yang beseragam tadi. Tetapi kemudian kedua bule tersebut malah berlalu meninggalkan bus dengan kernyitan dahi dan mata yang bertanya tanya sambil memandang satu sama lain. Waktu aku berjalan bersisian dengan kedua bule tersebut mereka menoleh dan memberhentikanku.

“Excuse me, can u speak english?” tanyanya.

Harus kujawab atau aku acuhkan saja bule ini pikirku.

“Yes a little bit“, kemudian kuputuskan menjawab sekenanya, bukan karena aku perduli dengan kemalangan wong londo ini. Itu sekedar pikiran isengku saja untuk mencoba mengobrol dengan wong londo.

Lalu telihat pundaknya perlahan mengendur tapi dengan nafas yang masih ditahan, kemudian ia menyodorkan secarik kertas bertuliskan mount bromo, bayuangga bus station, probolinggo city.

“Ealah badhe tindhak ten bromo to mas..”, batinku, bukan karena aku mengerti isi dan peta acak-acakan tersebut, lebih karena aku melihat di kertas tersebut tertulis bromo dan probolinggo saja.

“I wanna go to probolinggo also, we can get the bus together ” kataku medhog dan asal-asalan kepada meraka dan ternyata mereka mafhum.

“Which bus here will be able to take us to Probolinggo?” tanya salah satu bule itu kepadaku lagi.

“That bus” kujawab sambil menunjuk ke arah bus tempat mereka tadi berlalu. walupun aku tahu bawa bus yang akan kita naiki bukan bus tersebut, katena bus tersebut sedang dalam perbaikan mnurut penuturan sang agen tadi dimuka. Kedua bule tersebut saling berpandangan lagi tetapi sekarang dengan taburan senyum pelit dan helaan nafas boros membuang kebingungan yang sedari tadi mereka tahan-tahan. Mereka berdua berjalan mengekorku dari belakang, setelah kuletakan bawaanku, lalu aku duduk di trotoar di ikuti oleh mereka dengan kompak, walaupun tanpa meniru kelakuanku sebelumnya dan hanya memindah tasnya ke arah pelukan.
“Where you come from ?” tanyaku basa-basi memecah kebisuan dan adegan canggung ini.

“Germany” jawab salah satunya sambil menoleh kearahku dengan pandangan antusias seolah meminta untuk di tanyai lagi.
“Where, where is the place that you visited already in Yogyakarta ?” tanyaku lagi dengan artikulasi yang tentu saja medhog dan bekal kosakata seadanya yang teringat di kepala.

“Borobudur, prambanan and … malioboro” katanya sambil mengingat-ingat.

Kemudian ia balik bertanya kepadaku seolah mengapresiasi keramahanku.

“Are you going to bromo montein?” tanyaku lagi

“Yes, we will go to Mount Bromo. and then we will go to the red island beach after three days”. jawabnya tanpa memperdulikan ekspresi bodohku yang pusing mencernakata kata-katanya

“Do you know, how do we get to the red island from Probolinggo ? how far is it, and what we have to ride ?” aku masih bisu dan melongo

“You know that bay is usually called as a paradise for the surfers ?” tanyanya panjang.

“Sek , sek bos.” jawabku sambil mengisaratkan dengan tangan untuk berhenti berbicara. Butuh waktu buatku untuk mentranslate pertanyaanya di google dan lalu mencari tempat bernama pulau merah itu yang dalam bayanganku adalah sebuah pulau seperti hawai dengan pasir putih dan nyiur angin menerpa pantai yang penuh pulau kelapa. Dan ternyata mereka sudah berhenti menunggu jawabanku, mungkin mereka bosan atau haya kashan meihatku kebingungan.

“What your purpose in probolinggo ” memberi pertanyaan lagi padaku, “ Waduh opo maneh kui artine ” batinku menyesali pertanyaanku yang kuucapkan sebelumnya.
“Nganu sir, Working ” jawabku malu malu.

“Working ?, How old are you ?” tanyanya seakan tidak percaya

“I am twenty three , and you ?  jawabku dengan puas karena paham pertanyaanya.

“I am nineteen years old, and also him” Jawabnya sambil menoleh kearah bule yang satu lagi.

“Okay” jawabku sambil tercengang sekaligus malu karena mengetahui bahwa di usiaku yang diatas mereka aku bahkan belum lagi membuktikan bahwa bumi itu bulat dari atas langit, menyeberang pulau pun aku belum sempatkan.

Kemudian terjadi kebisuan yang agak lama setelah pertanyan tersebut, hingga aku memutuskan untuk membeli sebungkus rokok untuk menutupi diamku supaya lebih elegan. Ku tengok kedua bule tersebut mengisyaratkan tabik ,kemudian waktu aku berdiri dan mengambil langkah , salah satu bule itu bertanya padaku “wait sir, are you going to the toilet?” tanyanya padaku dengan imbuhan sir sekarang.

“Yes “ Jawabku tanpa berpikir. Kemudian dia berdiri dan berjalan di sampingku. Terlihat aku seperti hobit tua yang sedang berjalan menyertai bule muda ini. Lima meter kami berjalan sampai kemudian bule yang satu lagi menyusul kami sambil tergopoh tapi tetap terlihat keren, kini aku terlihat seperti kaus kaki di antara dua kaki yang jenjang. Sambil kami berjalan si bule ini berbicara dengan bahasa inggris agak panjang lalu melihat kearahku seolah bertanya atau mungkin meledek . Aku yang berbekal kosakata bahasa asing cuma sekantong plastik setengah kiloan ini tentu bingung mau menanggapi. Dan tanpa menjawab ocehanya barusan, aku mengulurkan tangan,“ I am Rangga by the way”ucapku memulai perkenalan diri  untuk menutupi ketidak tahuanku akan test listening yang barusan terjadi dengan protokol sakral yang telah terlupa sedari awal tadi. Kemudian disambutnya tanganku sambil memperkenalkan dirinya.

“I am Nick ” kata si bule yang di awal bertanya perihal bus kepadaku,

“My name is mathew ” diikuti juluran tangan si bule berkaus biru yang tadi mengoceh panjang. Setelah dua ratus meter kami berjalan sampailah di tempat warung yang di etalasenya terpampang rokokku, dengan bahasa isyarat aku menunjuk rokok tersebut sambil memberikan uang. Kedua bule tersebut melihatku lalu bertanya.

“Where is the toilet wrangga” tanya nick dengan suaranya yang asli bule. Lalu kujawab dengan jari telunjuk mengarah ke pintu warna biru tak jauh dari warung tempat kami berada. Kedua bule tersebut berlalu meninggalkanku yang berdiri sambil mengapit gudang garam di sela-sela jari sambil menyulutnya di ujung dan mulai menghisap. lima menit kemudian mathew keluar, disusul nick di belakangnya. Nick melambai kepadaku sambil tanganya kemudian membuat gestur seperti orang merokok. Aku melambai sambil tertawa mengiyakan.

Tidak lama setelah kami kembali kerombongan, Nick sedang menenggak air mineral ketika Kernet bus datang sambil menghitung jumlah orang yang akan di angkut. Langit semakin merah pertanda api langit mulai redup. Kulihat pada cermin ajaibku sudah pukul empat sore. Kernet bus yang tadi bermain hitung ini kemudian mendekat satu langkah sambil tanganya mengisyaratkan kami untuk berkumpul dan mendengarkan , ia kemudian berkata bahwa bus tambahan akan tiba satu jam lagi, dan menegaskan apabila penumpang tidak mau bersabar menunggu maka dipersilahkan menaiki bus jurusan surabaya terlebih dahulu dan tentu apabila berangkat sekarang masih bisa menemukan banyak bus jurusan jember, banyuwangi di terminal bungurasih/purabaya kota surabaya. Salah satu bapak dalam rombongan kami mendekati sang kernet dan berbisik dalam madura.

“Mak abid cak, bis’sah se deteng?”.

(kok lama mas , kedatangan busnya?). tanya bapak itu kepada sang kernet dalam madura. Bahasa madura menurut penuturan orang memang bahasa wajib untuk di gunakan di tempat seperti ini jika hendak bepergian kearah timur. lalu sang kernet menjawab dalam madura pula

“Ya de iyelah keadaannah, deremah poleh. Seng saber beih lah, marennah riah bis’sah deteng”.

(ya seperti ini keadaaanya , mau gimana lagi . yang sabar aja setelah ini juga sampai busnya )
kemudian sang kernet menuding kearah nick dan mathiew sambil bertanya

“Londo iki melu sopo ?” dengan bahasa jawa yang kaku dan kasar. nick dan matheiw menoleh kearahku di ikuti oleh seluruh rombongan.

“Oreng due riah norok engkok cak”
(Dua orang ini ikut saya mas) jawabku dalam madura menyikapi tradisi yang sudah ada di lapangan.

“Entarah demah kakeh cong”

(Pergi kemana kamu nak) tanya kernet tersebut kepadaku ramah dalam madura.

“Entar ka Probolinggo cak, se due riah entarah ke bromo ca’en ”

(Mau Pergi ke Probolinggo mas, kalau yang dua ini mau ke bromo katanya)
terangku kapada sang kernet dalam madura lagi.

“Iyelah cong, mon bede pa-apah degik engko ngocak ke kakeh beih lah, kake la se ngocak ke bule ruah”
(iya sudah nak, kalau ada apa-apa nanti saya bilang ke kamu saja ya, kamu yang bilangin ke bule itu ) tuturnya padaku
“eh cong tanya agin lah, mon engkok mentah photo selpi bereng, tak pa-apah?”

(eh nak, tanyakan lah, kalau saya minta foto selfie bareng, enggak apa-apa?)

Kata sang kernet padaku lagi, sambil menunjukan kaca ajaibnya nya dengan senyum tersungging dan kumisnya yang bapang terangkat diatas bibir seakan mempersilahkan giginya untuk tampil.

Aku menoleh kearah nick dan mathiew sambil meninggikan kedua alis mata meminta persetujuan.
“What?” tanya mathiew dan nick tersenyum bingung

“This guy want to take a photo with you” kataku pada mathiew.

“Oh sure” jawab mathiew mengiyakan.

Setelah selesai sesi foto selfie bersama barusan sang kernet berlalu pergi sambil berteriak

“Tenkyuu mister !”

Nick dan mathiew melambai kearah sang kernet.

“What he’s talking about to you?” tanya nick padaku

“He announced that the bus will be arrived on five a clock, and tell anybody to go to surabaya first if they want earlier arrival” jawabku,
“If you want to arrived in probolinggo earlier you can take that way bro” tayaku menantang , sekarang lidahku mulai terbiasa

“With you also?” tanya nick

“No i don’t, ill take the regular one” jawabku

“Alright then, we trapped together” kata nick sambil terenyum mengejek.

“Bule asu, batinku. Arepe di apusi malah aku seng diece” aku tertawa menangapi nick.

SINGKAT CERITA – Api langit telah di kudeta sementara oleh cahaya dari abad-baru bernama lampu terang. Bus yang dijanjikan tiba di peron pukul enam petang, terlambat satu jam dari janji sang kernet, alih-alih aku terkejut, aku maklum saja. Di dalam bus kami memilih tempat duduk berseberangan aku mengambil tepat duduk di sisi kiri bus yang berisi dua kursi, sedangkan nick dan mathew duduk di sebelah kanan yang memiliki tiga kursi dan bagaimanapun tempat mereka duduk tetap sempit dikarenakan tubuh mereka yang tinggi besar. Sebelum keberangktan kami menikmati waktu gratis sambil bertukar guyonan lain waktu aku mengerjai mathew yang sedang kelaparan dan tertarik membeli makanan dari penjual keliling yang masuk ke dalam bis.

“Which one is better, this one or this” sambil tangan kanan menunjukan tahu sumedang dan tangan kiri menunjukan bakpao.

“The right one” kataku mennjuk bakpao, lalu aku bertanya kepada si penjual

“Seng endi se isine daging ayam om?”

“Seng iki mas” kata penjual bakpao tersebut.

“This one is the best meal” kataku kepada mathew sambil tersenyum menyeringai.

“I don’t believe you” kata mathiew kepadaku sangsi, mingkin dia sadar sedang ku kerjai. Bagaimanapun itu terjadi, waktu itu aku memang sedang bergurau padanya, karena akusendiri tidak meyukai makanan tersebut.

“Oke, I choose this one “katanya kemudian sambil memperlihatkan sebungkus tahu sumedang.

Aku tertawa menanggapi sikap kekanak-kanakan mathew sambil tertawa diikuti oleh si penjual makanan lalu nick tesenyum kearahku.

“How is the teste” tanyaku pada mathew

“Bad !.” katanya singkat

“I told you” kataku mengejek. Lalu kami tersenyum sepakat.

Sepuluh jam kemudian bus berhenti. Dengan mata yang menyipit aku menoleh kearah nick yang membangunkanku.

“Wake up wrangga, we arrive bro” katanya

Lalu kami pun turun dan saling bersalaman. Tak lupa berbasa-basi sbelum kami berpisah. Aku panggilkan tukang ojek untuk mencarikan penginapan kedua teman seperjalananku barusan itu.

– – –
Itulah cerita pendek dengan percakapan yang acak dan kocar kacir, dengan bahasa kocar kacir begitu saja saya , nick, mathew, pak kernet bisa nyambung kok dan  bahkan bisa ngobrol bersama lho. Makanya ayolah kita kembalikan bahasa seperti fungsinya yang asli yaitu sebagai alat komunikasi, alat ngobrol. Bukan sebagai bahan debat dan juga olok-olokan. Toh pada dasarnya kita semua tahu yang dimaksud pak lurah itu apa. Yasudah , kita sepakati saja.

Oleh TIKUSGOT

– Gambar https://www.babe.news

Rekomendasi
Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Direktori

Berbagi kebaikan dengan menulis di wagers!

Menu